Kamis, 12 Maret 2015

ANJURAN BERSHADAQAH



ANJURAN BERSHADAQAH

قُلْ اِنَّ رَبِّيْ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَآءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ، وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ، وَ هُوَ خَيْرُ الرَّزِقِيْنْ. سبأ: ٣٩
Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)". dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, Maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya. [QS. Saba’ : 39]
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَـهُمْ فِـيْ سَبِيْلِ اللهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِـيْ كُلّ سُنْبُلَةٍ مّائَةُ حَبَّةٍ، وَ اللهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَـآءُ، وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ. البقرة: ٢٦١
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah[166] adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui. [QS. Al-Baqarah 261]
يَٰاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اَنْفِقُوْا مِنْ طَيّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ اَخْنَا لَكُمْ مّنَ اْلاَرْضِ، وَلاَ تَيَمَّمُوا اْلخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَ لَسْتُمْ بِاٰ خِذِيْهِ اِلآَّ اَنْ تُغْمِضُوْا فِيْهِ، وَ اعْلَمُوْآ اَنَّ اللهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ(٢٦٧) الشَّيْطنُ يَعِدُكُمُ اْلفَقْرَ وَ يَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَآءِ، وَ اللهُ يَعِدُكُمْ مَّغْفِرَةً مّنْهُ وَ فَضْلاً، وَ اللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ(٢٧٨) البقرة: ٢٦٧-٢٦٨
Hai orang-orang yang beriman, nafqahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafqahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (267) Syaitan menjanjikan (menakut- nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. [QS. Al-Baqarah : 267-268]
اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَ اَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ، وَ اللهُ عِنْدَه اَجْرٌ عَظِيْمٌ(١٥) فَاتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَ اسْمَعُوْا وَ اَطِيْعُوْا وَ اَنْفِقُوْا خَيْرًا لاَنْفُسِكُمْ، وَ مَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِه فَاُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ(١٦) اِنْ تُقْرِ ضُوا اللهَ قَرْضًا حَسَنًا يُّضٰعِفْهُ لَكُمْ وَ يَغْفِرْ لَكُمْ، وَ اللهُ شَٰكُوُرٌ حَلِيْمٌ(١٧) التغابن:١٥-١٧
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah lah pahala yang besar. Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta thaatlah, dan nafqahkanlah nafqah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun”.[QS. At-Taghaabun : 15-17]
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ، وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللهَ بِه عَلِيْمٌ. العمران: ٩٢
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafqahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafqahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. [QS. Ali 'Imraan : 92]
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ يَبْخَلُوْنْ بِمَآ اٰتٰىهُمُ اللهُ مِنْ  فَضْلِه هُوَ خَيْرًا لَّهُمْ، بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ، سَيُطَوَّقُوْنَ مَا بَخِلُوْا بِه يَوْمَ الْقِيٰمَةِ، وَ اللهِ مِيْرَاثُ السَّمٰوٰتِ وَ اْلاَرْضِ، وَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ. ال عمران: ١٨٠
Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. [QS. Ali 'Imraan : 180]
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ وَهُوَ يَذْكُرُ الصَّدَقَتَ وَ التَّعَفُّفَ عَنِ الْمَسْأَلَةِ: الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السَّفْلَى وَ الْيَدُ الْعُلْيَ الْمُنْفِقَةُ، وَ السُّفْلَى السَّائِلَةُ. مسلم ٢: ٧١٧
Dari 'Abdullah bin 'Umar, bahwasanya Rasulullah SAW ketika itu beliau berada di atas mimbar, beliau menerangkan tentang bershadaqah dan menahan diri dari minta-minta, beliau bersabda, "Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Tangan yang di atas adalah tangan orang yang memberi, sedangkan tangan yang di bawah adalah tangan orang yang meminta". [HR. Muslim juz 2 : 717].
عَنْ حَكِيْمِ ْبْنِ حِزَامٍ رض عَنِ النَّبِـيّ ص قَالَ: اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى. وَ ابْدَأْ بِـمَنْ تَعُوْلُ. وَ ابْدَأْ بِـمَنْ تَعُوْلُ. وَ خَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًـى. وَ مَنْ يَسْتَعِفَّ يُعِفَّهُ اللهُ. وَ مَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ . البخارى ٢: ١١٧
Dari Hakim bin Hizaam RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Tangan yang di atas itu lebih baik dari pada tangan yang di bawah. Dahulukanlah dalam pemberianmu kepada orang yang menjadi tanggunganmu. Sebaik-baik sedeqah ialah yang lebih dari keperluan. Dan barangsiapa yang berlaku perwira, maka Allah akan memelihara keperwiraannya dan barangsiapa yang mencukupkan diri, maka Allah akan mencukupkannya". [HR. Bukhari juz 2, hal. 117]
عَنْ شَدَّادٍ قَالَ: سَمِعْتُ اَبَا اُمَامَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: يَا ابْنَ اَدَمَ، اِنَّكَ اَنْ تَبْذُلَ اْلفَضْلَ خَيْرٌ لَكَ، وَاَنْ تُمْسِكَهُ شَرٌّ لَكَ، وَلاَ تُلاَمُ عَلَى كَفَافٍ. وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ. وَ الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى. مسلم ٢: ٧١٨
Dari Syaddad ia berkata : Aku mendengar Abu Umamah berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Hai anak Adam, jika kamu memberikan kelebihanmu, maka itu lebih baik bagimu, dan apabila kamu menahannya, maka akan buruk bagimu. Dan tidaklah tercela untuk kebutuhanmu, mulailah dari orang-orang yang menjadi tanggunganmu. Dan tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah”. [HR. Muslim juz 2, hal. 718]

عَنْ اَبِـى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص قَالَ: خَيْرُ الصَّدَقَةِ مَاكَانَ عَنْ ظَهْرِ غِنًـى وَ الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى وَ ابْدَأْ بِـمَنْ تَعُوْلُ. النسائى ٥: ٦٢
Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, "Sebaik-baik shadaqah adalah yang lebih dari kebutuhan. Dan tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dahulukanlah permberianmu untuk orang yang menjadi tanggunganmu". [HR. Nasaiy juz 5, hal. 62]
عَنْ اَبِـي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: تَصَدَّقُوْا. فَقَالَ رَجُلٌ: يَارَسُوْلَ اللهِ، عِنْدِي دِيْنَارٌ؟ قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى زَوْجَتِكَ. قَالَ: عِنْدِي آ خَرُ؟ قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى زَوْجَتِكَ. قَالَ: عِنْدِي آ خَـرُ؟ قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى وَلَدِكَ. قَالَ: عِنْدِي آخَرُ؟ قَالَ: تَصَدَّقْ بِـهِ عَلَى خَادِمِكَ. قَالَ: عِنْدِي آخَرُ؟ قَالَ:اَنْتَ اَبْصَرُ. النسائى ٥: ٦٢
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Bershadaqahlah kalian". Lalu ada seorang laki-laki yang bertanya, "Ya Rasulullah, bagaimana kalau saya punya uang satu dinar ?" Beliau bersabda, "Bershadaqahlah untuk dirimu". Orang laki-laki itu bertanya lagi, "Kalau saya punya yang lain ?". Beliau bersabda, "Bershadaqahlah untuk istrimu". Orang itu bertanya lagi, "Kalau saya punya yang lain lagi ?". Beliau bersabda, "Bershadaqahlah untuk anak- anakmu". Orang itu bertanya lagi, "Kalau saya masih punya yang lain lagi ?". Beliau bersabda, "Bershadaqahlah untuk pelayanmu". Orang itu bertanya lagi, "Kalau saya masih punya yang lain lagi ?". Beliau bersabda, "Kamu lebih mengetahui siapa yang seharusnya kamu beri shadaqah". [HR. Nasaiy juz 5, hal. 62]
عَنْ اَبِـى هُرَيْرَة اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: سَيَقَ دِرْهَمٌ مِائَـةَ اَلْفِ دِرْهَمٍ. قَالُوْا: اَكَيْفَ؟ قَالَ: كَانَ لِرَجُلٍ دِرْهَمَانِ تَصَدَّقَ بِاَحَدِهِمَا وَانْطَلَقَ رَ جُلٌ اِلَـى عُرْضِ مَالِهِ فَاَخَذَ مِائَةَ اَلْفِ دِرْهَمٍ فَتَصَدَّقَ بِـهَا. النسائى ٥: ٥٩
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Pahala shadaqah satu dirham bisa mengalahkan pahala shadaqah seratus ribu dirham". Para shahabat bertanya, "Bagaimana hal itu bisa terjadi, ya Rasulullah ?". Beliau bersabda, "Ada seseorang yang hanya punya uang dua dirham, kemudian ia menyedekahkan uangnya yang satu dirham. Dan ada orang yang kaya, ia menuju hartanya yang bertumpuk-tumpuk, lalu ia mengambil seratus ribu dirham, lalu ia shadaqahkan". [HR. Nasaiy juz 5, hal. 59]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلَ اللهِ ص: سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ اَلْفٍ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَ كَيْفَ؟ قَالَ: رَجُلٌ لَهُ دِرْهَمـَانِ فَاَخَذَ مِنْ عُرْضِ مَالِهِ مِائَةَ اَلْفٍ فَتَصَدَّقَ بِهَا. النسا ئى ٥: ٥٩
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Pahala shadaqah satu dirham bisa mengalahkan pahala shadaqah seratus ribu dirham". Para shahabat bertanya, "Ya Rasulullah, bagaimana hal itu bisa terjadi ?". Rasulullah SAW bersabda, "Ada seseorang mempunyai uang dua dirham, lalu ia mengambil yang satu dirham untuk dishadaqahkan. Dan ada orang yang mempunyai harta yang banyak, lalu ia mengambil dari tumpukan hartanya itu seratus ribu dirham, lalu ia shadaqahkan". [HR. Nasaiy juz 5, hal. 59]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَرض قَالَ: قَالَ رَسُوْلَ اللهِ ص: مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيّبٍ، وَ لاَ يَقْبَلُ اللهُ اِلاَّ الطَّيّبَ، وَ اِنَّ اللهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِنِهِ شُمَّ يُرَبّيْهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبّى اَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ حَتَّى تَكُوْنَ مِشْلَ اْلجَبَلِ. البخارى ٢: ١١٣
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang bersedeqah senilai satu biji kurma dari hasil usaha yang halal, dan Allah tidak mau menerima kecuali dari usaha yang halal, maka Allah akan menerima sedeqah itu dengan tangan kanan-Nya, kemudian dipelihara-Nya baik-baik untuk yang bersedeqah itu, sebagaimana salah seorang diantara kamu memelihara anak kudanya, sehingga sedeqah satu biji kurma itu menjadi sebesar gunung”. [HR. Bukhari juz 2, hal 113]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: اَتَى رَسُوْلَ اللهِ ص رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَىُّ الصَّدَقَةِ اَعْظَمُ؟ فَقَالَ: اَنْ تَصَدَّقَ وَ اَنْتَ صَحِيْحٌ شَحِيْحٌ تَخْسَى الْفَقْرَ وَ تَأْمُلُ الغِنَى، وَلَا تُمْهِلْ حَتَى اِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُوْمَ قُلْتَ لِفُلَا نٍ كَذَا وَ لِفُلَا نٍ كَذَا. اَلَا وَقَدْ كَانَ لِفُلَانٍ.مسلم ٢: ٧١٦
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW lalu bertanya, "Ya Rasulullah, shadaqah yang bagaimana yang paling besar pahalanya ?". Rasulullah SAW menjawab, "Kamu bershadaqah sedang kamu masih dalam keadaan sehat dan masih menginginkannya, kamu khawatir melarat dan ingin kaya. Maka janganlah menunda-nunda sehingga nyawa sudah (hampir) sampai di tenggorokan, baru kamu berkata, "Untuk si Fulan sekian, dan untuk si Fulan sekian". Ketahuilah bahwa sa'at itu harta tersebut sudah menjadi milik si Fulan". [HR. Muslim juz 2, hal. 716]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَرض عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ تَعَالَى فِى ظِلّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ اِلاَّ ظِلُّهُ: اِمَامٌ عَدْلُ، وَ شَابٌّ نَشَأَ فِى عِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِى الْمَسَاجِدِ،وَ رَجُلاَنِ تَحَابَّا فِى اللهِ اجْتَمَعَا عَلِيْهِ وَ تَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَ رَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَ جَمَالٍ، فَقَالَ: اِنّى اَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَا ضَتْ عَيْنَاهُ. البخارى ٢: ١١٦
Dari Abu Hurairah RA dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Ada tujuh golongan yang Allah Ta’aalaa akan menaungi mereka di dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu : 1. Imam yang adil, 2. Pemuda yang giat dalam beribadah kepada Allah, 3. Orang lelaki yang hatinyabergantung pada masjid-masjid, 4. Dua orang yang saling mengasihi karena Allah, keduanya berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah, 5. Orang laki-laki yang diajak berzina oleh wanita bangsawan, kaya lagi cantik molek, tetapi dia tidak mau dan mengatakan, "Aku takut kepada Allah", 6. Orang yang bersedekah dengan suatu sedekah dan ia merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diberikan oleh tangan kanannya, dan 7. Orang yangmengingat Allah diwaktu sunyi sehingga mengalirlah air mata dari keduamatanya". [HR. Bukhari Juz 2, hal. 116]
عَنِ الْمُنْذِرِ بْنِ جَرِيْرٍ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ: كُنَّا عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ ص فِـى صَدْرِ النَّهَارِ.قَالَ: فَجَاءَهُ قَوْمٌ حُفَاةٌ عُرَاةٌ مُـجْتَابِـى النّمَارِ اَوِ الْعَبَاءِ مُتَقَلّدِى السُّيُوْفِ. عَامَّتُهُمْ مِنْ مُضَرَ بَلْ كُلُّهُمْ مِنْ مُضَرَ، فَتَمَعَّرَ وَجْهُ رَسُوْلِ اللهِ ص لِمَا رَأَىبِهِمْ مِنَ الْفَاقَةِ. فَدَخَلَ شُمَّ خَرَجَ فَاَمَرَ بِلاَلاً فَاَذَّنَ وَ اَقَامَ. فَصَلَّى شُمَّ خَطَبَ فَقَالَ: يٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ،اِلَى آخِرِ الْآيَةِ، اِنَّ اللهَكَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.(النساء: ١). وَاْلآيَةَ الَّتِـى فِـى اِلَحشْرِ:اِتَّقُوا اللهَوَ لْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ، وَ اتَّقُوا اللهَ (الحشر: ١٨)تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ دِيْنَارِهِ، مِنْ دِرْهَمِهِ،مِنْ شَوْبِهِ، مِنْ صَاعِ بُرْهِ، مِنْ صَا عِ تَمْرِهِ(حَتَّى قَالَ) وَ لَوْ بِشِقّ تَـمْرَةٍ. قَالَ: فَجَاءَ رَجُلٌ مِنَ الْاَنَصَارِ بِصَرَّةِ كَادَتْ كَفُّهُ توعْجِزُ عَنْهَا، بَلْ قَدْ عَجَزَتْ. قَالَ: شُمَّ تَتَابَعَ النَّـاسُ. حَتَّـى رَأَيْتُ كَوْمَيْنِ مِنْ  طَعَامٍ وَشِيَابٍ حَتَّـى رَأَيْتُ وَجْهَ رَسُوْلِ اللهِ يَتَهَلَّلُ كَاَنَّهُ مُذْهَبَةٌ. فَقَالَ رَسُلُ اللهِ ص: مَنْ سَنَّ فِـى الْاِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ اَجْرُهَا وَ اَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِـهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ اُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ، وَ مَنْ سَنَّ فِـى الْاِسْلَامِ سُنَّةً سَيّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَ وِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِـهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ اَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ. مُسلم ٢: ٧٠٤
Dari Al-Mundzir bin Jarir, dari ayahnya, ia berkata : Dahulu kami berada di sisi Rasulullah SAW pada permulaan siang, tiba-tiba datang sekelompok orang tanpa alas kaki, telanjang dan hanya memakai pakaian yang terbuat dari bulu atau mantel yang terbuka bagian depannya, dan berselempang pedang. Kebanyakan mereka dari qabilah Mudlar, bahkan semuanya dari Mudlar. Maka berubahlah wajah Rasulullah SAW ketika melihat mereka itu karena sangat miskinnya. Kemudian beliau masuk, lalu keluar dan menyuruh Bilal untuk menyerukan adzan dan iqamah. Kemudian beliau shalat (Dhuhur). Setelah itu beliau berkhutbah, “Hai manusia, bertaqwalah kalian kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, …. hingga akhir ayat. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. An-Nisaa’ : 1. Dan beliau juga membaca ayat yang ada dalam surat Al-Hasyr “Bertaqwalah kamu sekalian kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah”. Al-Hasyr : 18. (Hendaklah) seseorang menyedekahkan dari dinarnya, dari dirhamnya, dari pakaiannya, dari satu sha’ gandumnya, dari satu sha’ kurmanya (hingga beliau bersabda) walaupun hanya separoh biji kurma”. Jarir berkata : Lalu datanglah seorang laki-laki Anshar dengan membawa sedeqah satu kantong yang hampir-hampir tangannya tidak kuat membawanya, bahkan betul-betul tidak kuat. Jarir berkata : Kemudian orang-orang susul- menyusul mengikutinya hingga aku melihat dua tumpukan dari makanan dan pakaian, sehingga aku lihat wajah Rasulullah SAW berseri-seri, seolah-olah wajah beliau tersepuh emas. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mempelopori perbuatan baik dalam Islam, maka dia akan mendapat pahala perbuatan itu dan pahala perbuatan orang yang mengikutinya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa mempelopori perbuatan buruk di dalam Islam, maka ia menanggung dosa perbuatannya itu dan dosa orang yang mengikutinya, tanpa berkurang sedikitpun dari dosa-dosa mereka. [HR. Muslim juz 2, hal. 704]

عَنْ اَبِـى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ اِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِ لَانِ فَيَقُوْلُ اَحَدُهُـمَا: اَللّهُمَّ اَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا. وَ يَقُوْلُ الْآخَرُ: اَللّهُمَّ اَعْطِ مُـمْسِكًا تَلَفًا. مسلِم ٢: ٧٠٠
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada hari yangmana para hamba itu masuk waktu pagi kecuali ada dua malaikat yang turun, salah satu dari malaikat itu berdoa : Ya Allah, berilah ganti kepada orangyang suka memberi. Dan malikat yang lain berdoa : Ya Allah, berilah kehancuran kepada orang yang bakhil”. [HR. Muslim juz 2, hal. 700]

Tidak boleh menarik kembali suatu pemberian, kecuali pemberian orang tua kepada anaknya

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ النَّبِىَّ ص قَالَ: مَشَلُ الَّذِى يَرْجِعُ فِى صَدَقَتِهِ كَمَشَلِ الْكَلْبٍ يَقِيْءُ شُمَّ يَعُوْدُ فِى قَيْئِهِ فَيَأْ كُلُهُ. مسلم ٣: ١٢٤٠
Dari Ibnu 'Abbas, bahwasanya Nabi SAW bersabda, "Perumpamaan orang yang menarik kembali shadaqahnya adalah seperti anjing yang muntah, kemudian memakan kembali muntahannya". [HR. Muslim juz 3, hal. 1240]
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: اِنَّمَا مَشَلُ الَّذِى يَتَصَدَّقُ بِصَدَقَةٍ شُمَّ يَعُوْدُ فِى صَدَقَتِهِ َكَمَشَلِ الْكَلْبِ يقِيْءُ شُمَّ يَأْكُلُ قَيْأَهُ. مسلم ٣: ١٢٤١
Dari Ibnu 'Abbas, ia berkata, "Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya perumpamaan orang yang bershadaqah dengan satu shadaqah, kemudian menarik kembali shadaqahnya, adalah seperti anjing yang muntah, lalu memakan kembali muntahannya". [HR. Muslim juz 3, hal. 1241]
عَنِ ابْنِ عَبَّاِسٍ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص قَالَ: الْعَائِدُ فِى هِبَتِهِ كَالْكَلْبِ يَقِى ءُ شُمَّ يَعُودُ فِى قَيْئِهِ. مسلم ٣: ١٢٤١

Dari Ibnu 'Abbas, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, "Orang-orang yang menarik kembali hibahnya adalah seperti anjing yang muntah, lalu menelan kembali muntahannya". [HR. Muslim juz 3, hal. 1241]
عَنِ ابْنِ عَبَّا سٍ رض قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ص: لَيْسَ لَنَا مَشَلُ السَّوْءِ الَّذِيْ يَعُوْدُ فِي هِبَتِهِ كَالْكَلْبِ يَرْ جِعُ فِى قَيْئِهِ. البخارى ٣: ١٤٢
Dari Ibnu 'Abbas RA, ia berkata : Nabi SAW bersabda, "Tidak pantas kita punya sifat-sifat yang buruk, yaitu orang yang menarik kembali hibahnya adalah seperti anjing yang memakan kembali muntahannya". [HR. Bukhari juz 3, hal. 142].
Boleh menarik kembali pemberian orang tua kepada anaknya.
عَنْ النُّعْمَا نِ بْنِ بَشِيرٍ اَنَّهُ قَالَ: اِنَّ اَبَاهُ اَتَى بِهِ رَسُوْلَ اللهِ ص فَقَالَ: اِنّـى نَحَلْتُ ابْنِـى هٰذَا غُلَامًا كَانَ لِـى. فَقَالَ رَ سُوْلُ اللهِ ص: اَكُلَّ وَلَدِكَ نَحَلْتَهُ مِشْلَ هٰذَا؟. فَقَالَ: لَـا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: فَارْجِعْهُ. مسلم ٣: ١٢٤١
Dari Nu'man bin Basyir bahwasanya ia mengatakan bahwa ayahnya pernah membawanya datang kepada Rasulullah SAW, lalu ayahnya berkata, "Sesungguhnya saya memberikan budak saya kepada anak saya ini". Kemudian Rasulullah SAW bertanya, "Apakah kepada masing-masing anakmu juga kamu berikan seperti kepada anakmu ini ?". Jawab ayahku, "Tidak". Maka Rasulullah SAW bersabda, "(Kalau begitu) maka tariklah kembali pemberian itu". [HR. Muslim juz 3, hal. 1241]
عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ قَالَ: تَصَدَّقَ عَلَيَّ اَبِى بِبَعْضِ مَالِهِ فَقَالَتْ اُمّى عَمْرَةُ بِنْتُ رَوَاحَةَ: لَا اَرْضَى حَتَّى تُشْهِدَ رَسُوْلَ اللهِ ص. فَانْطَلَقَ اَبِى اِلَى النَّبِيّ ص لِيُسْهِدَهُ عَلَى صَدَقَتِـىْ، فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ ص: اَفَعَلْتَ هٰذَا بِوَلَدِكَ كُلّهِمْ؟ قَالَ:لَا.قَالَ: اِتَّقُوا اللهَ وَ اعْدِلُوْا فِى اَوْلَادِكُمْ. فَرَ جَعَماَبِى فَرَدَّ تِلْكَ الصَّدَقَةَ. مسلم ٣: ١٢٤٢
Dari Nu'man bin Basyir, ia berkata, “Ayahku memberikan sebagian hartanya kepadaku”. Lalu ibuku, yaitu ‘Amrah binti Rawahah berkata, ”Aku tidak rela sehingga kamu minta disaksikan kepada Rasulullah SAW”. Maka ayahku datang kepada Nabi SAW meminta kepada beliau untuk menjadi saksi pemberiannya kepadaku. Lalu Rasulullah SAW bertanya, “Apakah kamu juga memberikan seperti ini kepada semua anakmu ?". Ayahku menjawab, “Tidak". Nabi SAW bersabda, “Bertaqwalah kepada Allah, dan berbuatlah adil terhadap anak-anakmu". Lalu ayahku pulang dan menarik kembali pemberian itu. [HR. Muslim juz 3, hal. 1242].
Bersambung......

Jumat, 20 Februari 2015

TENTANG MA’MUM MASBUQ



TENTANG MA’MUM MASBUQ

Beberapa pengertian
Sebelum kita membahas tentang ma’mum masbuq, ada baiknya kita mengetahui dulu beberapa pengertian yang terkait dengan hal itu, karena ma’mum masbuq adalah keadaan dimana seseorang itu terlambat dalam mengikuti shalat berjama’ah
Shalat
Secara bahasa berarti do’a, tetapi yang dimaksud shalat menurut istilah ialah ibadah yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbiratul ihram dan disudahi dengan salam, dan memenuhi beberapa syarat dan rukunnya yang telah ditentukan Allah SWT.

Shalat berjama’ah
Jama’ah pengertiannya adalah bersama-sama, yang satu jadi imam dan yang lainmenjadi ma’mum. Apabila ada dua orang atau lebih shalat bersama-sama, dan salah seorang diantara mereka diikuti oleh yang lainnya, yang demikian itu disebut shalat berjama’ah. Orang yang diikuti disebut imam, dan orang yang mengikuti disebut ma’mum.

Ma’mum masbuq
Masbuq pengertiannya, ketinggalan. Ma’mum masbuq adalah ma’mum dalam shalat berjama’ah, namun si ma’mum mulai shalatnya tidak sejak awwal, sehingga ma’mum tersebut tidak sempurna membaca Al-Fatihah beserta imam di rekaat pertama.

Tentang mendapatkan fadhilah shalat berjama’ah
Untuk mendapatkan fadhilah shalat berjama’ah, ini bisa diperoleh dengan cara ma’mum ikut bersama imam dalam shalatnya, walaupun ia hanya mendapatkan duduk yang terakhir sebelum salam. Berdasarkan hadits :
عَنْ اَبِى هُرَ يْرَ ةَ عَنِ النَّبِيّ ص قاَلَ : اِذَا سَمِعْتُمُ اْلاِقَا مَةَ فَا مْشُوْا اِلَى الصَّلاَةِ وَ عَلَيْكُمْ بِالسَّكِيْنَةِ وَ اْلوَ قَارِ وَ لاَ تُسْرِ عُوْا ، فَمَااَدْرَ كْتُمْ فَصَلُّوْا وَ مَا فَاتَكُمْ فَاَتِمُّوْا.البخارى ١ : ١٥٦
Dari Abu Hurairah, dari nabi SAW, beliau bersabda, “Apabila kalian mendengar iqamah, berjalanlah (menuju masjid) untuk shalat, dan hendaklah kalian datang dengan tenang dan tunduk, dan janganlah tergesa-gesa. Apa yang kalian dapatkan shalat (bersama imam) maka shalatlah (bersama imam), dan apa yang kalian ketinggalan maka sempurnakanlah”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 156]
عَنْ رَجُلٍ مِنْ اَهْلِ اْلمَدِيْنَةِ عَنِ النَّبِيّ ص اَنَّهُ سَمِعَ خَفِقَ نَعْلَيَّ وَ هُوَ سَا جِدٌ فَلَمَّا فَرَ غَ مِنْ صَلاَتِهِ قَلَ مَنْ هذَا الَّذِي سَمِعْتُ خَفْقَ نَعْلِهِ؟ قَالَ: اَنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ: فَمَاصَنَعْتَ؟ قَالَ: وَجَدْتُكَ سَاجِدْتُكَ سَاجِدًا فَسَجَدْتُ. فَقَالَ: هكَذَافَاصْنَعُوْا وَلاَتَعْتَدُّوْا بِهَا، مَنْ وَ جَدَنِي رَاكِعًااَوْقَائِمًا اَوْسَاجِدًا فَلْيَكُنْ مَعِي عَلَى حَالِي الَّتِي اَنَا عَلَيْهَا.ابن ابى شيبة ا: ٢٢٧، رقم:٢٦٠١
Diriwayatkan dari seorang penduduk Madinah, dari Nabi SAW bahwa beliau mendengar suara sandal pada saat sedang sujud. Setelah selesai shalat, beliau bertanya, “Siapakah orang yang tadi aku dengar suara sandalnya ?”. Ia menjawab, “Saya, ya Rasulullah”. Beliau bertanya, “Apakah yang kamu lakukan ?”. Ia menjawab, “Saya mendapati engkau sujud, maka akupun sujud”. Mendengar hal itu beliau bersabda, “Seperti itulah yang seharusnya kalian lakukan, namun jangan kalian hitung satu rekaat. Barangsiapa yang mendapati aku ruku’, berdiri atau sujud maka hendaklah ia mengikuti keadaanku pada saat itu”. [HR. Ibnu Abi Syaibah, juz 1, hal. 227, no. 2601]
Dengan dasar hadits-hadits tersebut dapat dipahami bahwa ma’mum masbuq tetap mendapatkan pahala shalat berjama’ah, tetapi pahalanya tidaklah seperti pahala orang yang mengikuti jama’ah sejak awwal. Walloohu a’lam.
Ma’mum mendapatkan ruku’ bersama imam, apakah sudah dihitung mendapat satu rekaat ?
Ulama berbeda pendapat tentang ukuran seorang ma’mum mendapat satu rekaat bersama imam. Tentang hal ini ada dua pendapat :
Pendapat pertama, ma’mum yang mendapatkan ruku’ bersama imam sudah dihitung mendapat satu rekaat. Alasan-alasan mereka sebagai berikut
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ اَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ اَدْرَكَ الصَّلاَةَ. البخارى ١: ١٤٥
Dari AbuHurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mendapatkan satu ruku’ dari shalat, maka ia telah mendapatkan shalat itu”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 145]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ اَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ اَدْرَكَهَا قَبْلَ اَنْ يُقِيْمَ اْلاِمَامُ صُلْبَهُ. ابن خزيمة ٣: ٤٥،رقم:١٥٩٥
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mendapatkan satu ruku’ dalam shalat (sebelum imam menegakkan punggungnya) maka ia telah mendapatkan shalat itu”. [HR. Ibnu Khuzaimah juz 3, hal. 45, no. 1595, dla’if karena dalam sanadnya ada perawi bernama Kurrah bin ‘Abdur Rahman].
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا جِئْتُمْ اِلَى الصَّلاَةِ وَ نَحْنُ سُجُوُدٌ فَاسْجُدُوْا وَ لاَ تَعُدُّوْ هَا شَيْئًا. وَمَنْ اَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ اَدْرَكَ الصَّلاَةَ. ابو داود  ١: ٢٣٦، رقم٨٩٣
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Apabila kalian datang untuk shalat sedang kami dalam keadaan sujud, maka bersujudlah kalian. Dan janganlah dihitung (satu rekaat). Dan barangsiapa mendapatkan satu ruku’, berarti ia mendapatkan shalat itu". [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 236, no. 893, dla’if karena dalam sanadnya ada perawi bernama Yahya bin Sulaiman].
عَنْ اَبِى بَكْرَةَ اَنَّهُ انْتَهَى اِلىَ النَّبِىّ ص وَ هُوَ رَاكِعٌ، فَرَكَعَ قَبْلَ اَنْ يَصِلَ اِلَى الصَّفّ، فَذَكَرَ ذِلكَ لِلنَّبِىّ ص، فَقَالَ: زَادَكَ اللهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ. البخارى ١ :١٩٠
Dari Abu Bakrah bahwasanya ia mendapati Nabi SAW sedang ruku’, maka ia ikut ruku’ sebelum sampai pada shaff. Lalu ia menyampaikan hal itu kepada Nabi SAW. Maka beliau SAW bersabda, “Semoga Allah menambahkan kebaikan atas semangatmu, dan jangan kamu ulangi”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 190]
عَنِ اْ لحَسَنِ اَنَّ اَبَا بَكْرَةَ جَاءَوَ رَسُوْلُ اللهِ ص رَاكِعٌ فَرَكَعَ دُوْنَ الصَّفّ شُمَّ مَشَى اِلىَ الصَّفّ. فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ ص صَلاَتَهُ قَالَ: اَيُّكُمُ الَّذِيْ رَكَعَ دُوْنَ الصَّفّ شُمَّ مَشَى اِلىَ الصَّفّ؟، فَقَالَ اَبُوْ بَكْرَةَ: اَنَا. فَقَالَ النَّبِيُّ ص: زَادَكَ اللهُ حِرْصًاوَلاَتَعُدْ. ابو داود ١: ١٨٢، رقم:٦٨٤
Dari Al-Hasan bahwasanya Abu Bakrah datang (di masjid), ketika Rasulullah SAW sedang ruku’, maka ia ikut ruku’ sebelum sampai di shaff, kemudian ia berjalan menuju shaff. Maka setelah Nabi SAW selesai shalat, beliau bersabda, “Siapa diantara kalian yang ruku’ sebelum sampai di shaff, kemudian berjalan ke shaff ?”. Maka Abu Bakrah menjawab, “Saya”. Maka Nabi SAW bersabda, “Semoga Allah menambah kebaikan kepadamu atas semangatmu, dan jangan kamu ulangi”. [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 182, no. 684]
عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ: مَنْ اَدْرَكَ اْلاِمَامَ رَاكِعًا، فَرَكَعَ قَبْلَ اَنْ يَرْفَعَ اْلاِمَامُ رَأْسَهُ فَقَدْ اَدْرَكَ تِلْكَ الرَّكْعَةَ. البيهقى ٢ : ٩٠
Dari Ibnu ‘Umar, ia mengatakan, “Barangsiapa mendapati imam sedang ruku’, lalu ikut ruku’ sebelum imam mengangkat kepalanya, maka ia telah mendapatkan rekaat itu”. [HR. Baihaqi juz 2, hal. 90]
عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ قَالَ : خَرَ جْتُ مَعَ عَبْدِ اللهِ يَعْنِى ابْنَ مَسْعُوْدٍ مِنْ دَارِهِ اِلَى الْمَسْجِدِ، فَلَمَّ تَوَ سَّطْنَا الْمَسْجِدَ رَكَعَ الاِمَامُ، فَكَبَّرَ عَبْدُ اللهِ وَ رَكَعَ وَرَكَعْتُ مَعَهُ، شُمَ مَشَيْنَا رَاكِعَيْنِ حَتَّى انْتَهَيْنَا اِلَى الصَّفّ حِيْنَ رَفَعَ الْقَوْمُ رُءُوْسَهُمْ، فَلَمَّا قَضَى الاِمَامُ الصَّلاَةَ قُمْتُ وَ اَنَا اَرَى اَنّى لَمْ اَدْرِكْ، فَاَخَذَ عَبْدُ اللهِ بِيَدِى وَ اَجْلَسَنِى، شُمَّ قَالَ: اِنَّكَ قَدْ اَدْرَكْتَ. البيهقى ٢: ٩٠
Dari Zaid bin Wahab, ia berkata, “Aku keluar bersama ‘Abdullah, yakni Ibnu Mas’ud dari rumahya menuju masjid. Ketika kami sudah sampai di bagian tengah masjid, imam ruku’, maka ‘Abdullah bin Mas’ud bertakbir kemudian ruku’, dan akupun ikut ruku’ bersamanya. Kemudian kami berjalan sambil ruku’ sehingga sampai ke dalam shaff ketika orang-orang sudah mengangkat kepala mereka. Setelah imam menyelesaikan shalat, aku bangkit, karena aku mengira belum mendapatkan satu rekaat. Namun ‘Abdullah menarik tanganku dan mendudukkanku sambil berkata, “Sesungguhnya engkau telah mendapatkan (rekaat itu)”. [HR. Baihaqi juz2, hal. 90]
عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ اَخْبَرَنِىى اَبُوْ اُمَامَةَ بْنُ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ: اَنَّهُ رَأَى زَيْدَ بْنَ شَابِتٍ دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَ الْاِمَامُ رَاكِعٌ فَمَشَى حَتَّى اَمْكَنَهُ اَنْ يَصِلَ الصَّفَّ وَ هُوَ رَاكِعٌ، كَبَّرَ فَرَ كَعَ شُمَّ دَبَ وَ هُوَ رَاكِعٌ حَتَّى وَ صَلَ الصَّفَّ. البيهقى ٢: ٩٠
Dari Ibnu Syihab, ia berkata : Mengkhabarkan kepadaku Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, bahwasanya ia melihat Zaid bin Tsabit masuk ke dalam masjid pada saat imam sedang ruku’. Kemudian ia berjalan supaya memungkinkan baginya untuk mencapai shaff dalam keadaan ruku’, maka ia bertakbir lalu ruku’. Kemudian ia berjalan sambil ruku’ sehingga sampai di shaff. [HR. Baihaqi juz 2, hal. 90]
Keterangan :
Dengan dasar hadits dan riwayat di atas mereka memahami perkataan“rak’atan” diartikan ruku’, dan mereka memahami “walaa ta’ud” dengan jangan mengulangi shalat, sehingga apabila ma’mum masbuq mendapatkan ruku’ bersama imam, maka sudah dihitung mendapat satu rekaat.

Pendapat kedua, ma’mum masbuq yang tidak mendapatkan Al-Fatihah tidak dihitung satu rekaat, meskipun mendapatkan ruku’ bersama imam, dengan alasan :
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: لَاصَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ. البخارى ١: ١٨٤
Dari ‘Ubadah bin Shaamit bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Tidak(sah) shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah”. [HR. Bukhari juz1, hal. 184]
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: لَاصَلَاةَ لمِنْ لَمْ يَقْرَأْ بِاُمُّ الْقُرْاَنِ. مسلم ١: ٢٩٥
Dari ‘Ubadah bin Shaamit bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Tidak(sah) shalat bagi orang yang tidak membaca Ummul Qur’an (Al-Fatihah)”. [HR. Muslim juz 1, hal. 295]
عَنْ اَبِىى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اِذَا سَمِعْتُمُ اْلاِقَامَةَ فَامْشُوْا اِلَى الصَّلَاةِوَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِيْنَةِ وَ الْوَقَارِوَلاَتُسْرِ عُوْا، فَمَااَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوْاوَمَافَاتَكُمْ فَاَتِمُّوْا. البخارى ١: ١٥٦
Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Apabila kalian mendengar iqamah, berjalanlah (menuju masjid) untuk shalat, dan hendaklah kalian datang dengan tenang dan tunduk, dan janganlah tergesa-gesa. Apa yang kamu dapati shalatlah (bersama imam), dan apa yang kamu ketinggalan sempurnakanlah”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 156]]
Keterangan :
Berdasarkan hadits-hadits di atas mereka memahami bahwa ma’mum masbuq yang mendapatkan ruku’ bersama imam, belum dihitung satu rekaat, karena tidak mendapatkan Al-Fatihah, sedangkan Al-Fatihah adalah salah satu rukun shalat, artinya : kalau rukun tidak dikerjakan maka shalatnya tidak sah. Apabila ma’mum masbuq mengalami yang demikian itu, maka ketika imam salam, ia tidak ikut salam, tetapi menyempurnakan rekaat yang kurang tadi.
Penjelasan :
1.    Dalam hal ini kami sependapat dengan pendapat kedua, dengan alasan sebagaimana di  atas.
2.    Adapun hadits  )  مَنْ اَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ اَدْرَكَ الصَّلَاةَ   ) itu
memang benar, tetapi arti “ar-rak’ata” di situ adalah rekaat, bukan ruku’. Maksud hadits tersebut begini : Barangsiapa yang shalat Dhuhur mendapat satu rekaat, lalu terdengar adzan ‘Ashar, maka orang tersebut masih terhitung shalat pada waktunya, begitu pula kalau seseorang shalat ‘Ashar mendapat satu rekaat, lalu terdengar adzan Maghrib, berarti orang tersebut terhitung shalat ‘Ashar masih dalam waktunya. Hal ini sesuai dengan hadits berikut ini :
عَنْ اَبِىى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسَوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ اَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصُّبْحِ قَبْلَ اَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَقَدْ اَدْرَكَ الصُّبْحَ. وَ مَنْ اَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ اَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقَدْ اَدْرَكَ الْعَصْرَ. مسلم ١: ٤٢٤
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mendapatkan satu rekaat dari shalat Shubuh sebelum matahari terbit, maka berarti dia telah mendapatkan shalat Shubuh itu (keseluruhannya). Dan barangsiapa mendapatkan satu rekaat dari shalat ‘Ashar sebelum matahari terbenam, maka berarti dia telah mendapatkan shalat ‘Ashar itu (keseluruhannya)”. [HR. Muslim juz 1, hal. 424]
3.    Memang rak’ah bisa berarti ruku’ kalau ada qarinah yang membawa kepada arti tersebut, seperti hadits di bawah ini :
عَنْ اَبِىى هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا قَامَ اِلَىى الصَّلَاةِ يُكَبّرُ حِيْنَ يَقُوْمُ، شُمَّ يَكُوْلُ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ حِيْنَ يَرْفَعُ صُلْبَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ، شُمَّ يَقُوْلُ وَ هُوَ قَائِمٌ: رَبَّنَا لَكَ اْلحَمْدُ، شُمَّ يُكَبّرُ حِيْنَ يَهْوِ ي سَا جِدًا. احمد
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Adalah Rasulullah SAW apabila berdiri shalat, beliau bertakbir ketika berdiri, kemudian bertakbir ketika ruku', kemudian membaca “Sami'alloohu liman hamidah” ketika mengangkat tulang belakangnya (ketika bangkit) dari ruku', kemudian membaca Robbanaa lakal-hamdu” dalam keadaan berdiri. Kemudian beliau “ bertakbir ketika menunduk sujud. [HR. Ahmad]
عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص جَهَرَ فِىى صَلَاةِ اْلخُسُوْفِ بِقِرَاءَتِهِ فَصَلَّى اَرْبَعَ رَ كَعَا تٍ فِىى رَ كْعَتَيْنِ وَ اَرْبَعَ سَجَدَاتٍ. مسلم ٢: ٦٢٠
Dari ‘Aisyah bahwasanya Nabi SAW membaca jahr dalam shalat gerhana dan beliau shalat dengan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka'at. [HR. Muslim 2 : 620]
Tetapi selama tidak ada qarinah atau sebab-sebab yang memalingkan kata rak’ah kepada arti ruku’, maka rak’ah artinya adalah rekaat.
4. Adapun memahami sabda Nabi SAW kepada Abu Bakrah (  وَلَا تَعُدْ   )
itu dengan “dan jangan kamu ulangi shalatmu, karena shalat itu sudah sempurnya”. Pemahaman tersebut tidak benar, karena maksud Nabi SAW itu adalah, “lain kali jangan kamu ulangi perbuatan seperti itu”, yaitu takbir (sebelum sampai di shaff), lalu ikut ruku’ di luar shaff, kemudian berjalan menuju shaff dalam keadaan ruku’.
5. Ada lagi yang mengambil dasar “mendapatkan ruku’ bersama imam ini dihitung satu rekaat”, dengan berdasar hadits riwayat Abu Dawud, yang disebutkan dalam buku Fiqh Islam oleh H. Sulaiman Rasyid halaman
114, bab Hukum Masbuq :
اِذَا جَاءَاَحَدُكُمُ الصَّلَاةَ وَ نَحْنُ سُجُوْدٌ فَاسْجُدُوْا وَ لاَ تَعُدُّ هَا شَيْئًا وَ مَنْ اَدْرَكَ الرُّ كُوْ عَ فَقَدْ اَدْرَكَ الرَّكْعَةَ.ابوداود
Apabila seseorang diantara kamu datang untuk shalat sewaktu kami sujud, hendaklah kamu sujud, dan janganlah kamu hitung itu satu rekaat; dan barangsiapa mendapati ruku’ beserta imam, maka ia telah mendapat satu rekaat. [HR. Abu Dawud]
Mengambil dasar dengan hadits tersebut tidak benar, karena lafadh tersebut dalam kitab Sunan Abu Dawud tidak ada. (Sudah kami cari dalam Sunan Abu Dawud, tidak kami temukan).
6. Adapun perbuatan shahabat Zaid bin Tsabit, Ibnu Mas’ud dan lainnya, melakukan ruku’ di luar shaff, lalu sambil ruku’ berjalan menuju shaff, itu tidak bisa dijadikan dasar untuk diikuti, karena seandainya riwayat itu betul, maka pemahamannya adalah sebagai berikut :
Beliau-beliau itu melakukan ruku’ di luar shaff lalu sambil ruku’ berjalan menuju shaff itu tentu tidak sepengetahuan Nabi SAW (memang dalam riwayat itu tidak ada qarinah yang menunjukkan bahwa hal itu dilakukan dengan sepengetahuan Nabi SAW), dan ternyata ketika Abu Bakrah melakukan demikian dan diketahui oleh Rasulullah SAW, maka beliau melarangnya. Pemahaman ini dikuatkan dengan riwayat sebagai berikut :
عَنِ اْلاَعْرَجِ قَالَ: قُلْتُ لِاَبِىى هُرَيْةا: يَرْكَعُ اْلاِ مَامُ وَ لَمْ اَصِلْ اِلَىى الصَّفّ اَفَاَرْكَعُ؟ فَاَخَذَ بِرِجْلِى، وَقَالَ: لاَ يَا اَعْرَجُ حَتَّى تَأْخُذَ مَقَامَكَ مِنَ الصَّفّ. ابن عبد البر ف الاستذ كار ٦: ٢٤٦، رقم: ٨٨٣٤
Dari Al-A’raj, ia berkata : Aku bertanya kepada Abu Hurairah, “Apabila imam sedang ruku’ sedangkan aku belum sampai pada shaff, apakah aku boleh ruku’ (ketika itu) ?”. Maka Abu Hurairah memegang kakiku, lalu berkata, “Tidak wahai A’raj, sehingga kamu sampai pada tempatmu di shaff”. [HR. Ibnu ‘Abdil Barr dalam Al-Istidzkar juz 6, hal. 246, no 8834]

عَنْ اَبِىى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا جَا ءَ اَحَدَ كُمُ الصَّلَاةَ فَلَا يَرْ كَعْ دُوْنَ الصَّفّ حَتَّى يَأْ خُذَ مَكَانَهُ مِنَ الصَّفّ. ابن عبد البر فى الاستذ كار ٦: ٢٤٦،رقم:٨٨٣٦
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seseorang diantara kalian datang untuk shalat, maka janganlah ruku’ di luar shaff sehingga ia berada pada tempatnya di shaff”. [HR. Ibnu ‘Abdil Barr dalam Al-Istidzkar juz 6, hal. 246, no. 8836]
Kita dilarang membaca surat atau ayat saat imam membaca jaher sesuai dengan surat Al A'raaf  ayat 204

dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.( Al A'raaf  ayat 204)




~oO[ @ ]Oo~