Jumat, 20 Februari 2015

TENTANG MA’MUM MASBUQ



TENTANG MA’MUM MASBUQ

Beberapa pengertian
Sebelum kita membahas tentang ma’mum masbuq, ada baiknya kita mengetahui dulu beberapa pengertian yang terkait dengan hal itu, karena ma’mum masbuq adalah keadaan dimana seseorang itu terlambat dalam mengikuti shalat berjama’ah
Shalat
Secara bahasa berarti do’a, tetapi yang dimaksud shalat menurut istilah ialah ibadah yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbiratul ihram dan disudahi dengan salam, dan memenuhi beberapa syarat dan rukunnya yang telah ditentukan Allah SWT.

Shalat berjama’ah
Jama’ah pengertiannya adalah bersama-sama, yang satu jadi imam dan yang lainmenjadi ma’mum. Apabila ada dua orang atau lebih shalat bersama-sama, dan salah seorang diantara mereka diikuti oleh yang lainnya, yang demikian itu disebut shalat berjama’ah. Orang yang diikuti disebut imam, dan orang yang mengikuti disebut ma’mum.

Ma’mum masbuq
Masbuq pengertiannya, ketinggalan. Ma’mum masbuq adalah ma’mum dalam shalat berjama’ah, namun si ma’mum mulai shalatnya tidak sejak awwal, sehingga ma’mum tersebut tidak sempurna membaca Al-Fatihah beserta imam di rekaat pertama.

Tentang mendapatkan fadhilah shalat berjama’ah
Untuk mendapatkan fadhilah shalat berjama’ah, ini bisa diperoleh dengan cara ma’mum ikut bersama imam dalam shalatnya, walaupun ia hanya mendapatkan duduk yang terakhir sebelum salam. Berdasarkan hadits :
عَنْ اَبِى هُرَ يْرَ ةَ عَنِ النَّبِيّ ص قاَلَ : اِذَا سَمِعْتُمُ اْلاِقَا مَةَ فَا مْشُوْا اِلَى الصَّلاَةِ وَ عَلَيْكُمْ بِالسَّكِيْنَةِ وَ اْلوَ قَارِ وَ لاَ تُسْرِ عُوْا ، فَمَااَدْرَ كْتُمْ فَصَلُّوْا وَ مَا فَاتَكُمْ فَاَتِمُّوْا.البخارى ١ : ١٥٦
Dari Abu Hurairah, dari nabi SAW, beliau bersabda, “Apabila kalian mendengar iqamah, berjalanlah (menuju masjid) untuk shalat, dan hendaklah kalian datang dengan tenang dan tunduk, dan janganlah tergesa-gesa. Apa yang kalian dapatkan shalat (bersama imam) maka shalatlah (bersama imam), dan apa yang kalian ketinggalan maka sempurnakanlah”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 156]
عَنْ رَجُلٍ مِنْ اَهْلِ اْلمَدِيْنَةِ عَنِ النَّبِيّ ص اَنَّهُ سَمِعَ خَفِقَ نَعْلَيَّ وَ هُوَ سَا جِدٌ فَلَمَّا فَرَ غَ مِنْ صَلاَتِهِ قَلَ مَنْ هذَا الَّذِي سَمِعْتُ خَفْقَ نَعْلِهِ؟ قَالَ: اَنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ: فَمَاصَنَعْتَ؟ قَالَ: وَجَدْتُكَ سَاجِدْتُكَ سَاجِدًا فَسَجَدْتُ. فَقَالَ: هكَذَافَاصْنَعُوْا وَلاَتَعْتَدُّوْا بِهَا، مَنْ وَ جَدَنِي رَاكِعًااَوْقَائِمًا اَوْسَاجِدًا فَلْيَكُنْ مَعِي عَلَى حَالِي الَّتِي اَنَا عَلَيْهَا.ابن ابى شيبة ا: ٢٢٧، رقم:٢٦٠١
Diriwayatkan dari seorang penduduk Madinah, dari Nabi SAW bahwa beliau mendengar suara sandal pada saat sedang sujud. Setelah selesai shalat, beliau bertanya, “Siapakah orang yang tadi aku dengar suara sandalnya ?”. Ia menjawab, “Saya, ya Rasulullah”. Beliau bertanya, “Apakah yang kamu lakukan ?”. Ia menjawab, “Saya mendapati engkau sujud, maka akupun sujud”. Mendengar hal itu beliau bersabda, “Seperti itulah yang seharusnya kalian lakukan, namun jangan kalian hitung satu rekaat. Barangsiapa yang mendapati aku ruku’, berdiri atau sujud maka hendaklah ia mengikuti keadaanku pada saat itu”. [HR. Ibnu Abi Syaibah, juz 1, hal. 227, no. 2601]
Dengan dasar hadits-hadits tersebut dapat dipahami bahwa ma’mum masbuq tetap mendapatkan pahala shalat berjama’ah, tetapi pahalanya tidaklah seperti pahala orang yang mengikuti jama’ah sejak awwal. Walloohu a’lam.
Ma’mum mendapatkan ruku’ bersama imam, apakah sudah dihitung mendapat satu rekaat ?
Ulama berbeda pendapat tentang ukuran seorang ma’mum mendapat satu rekaat bersama imam. Tentang hal ini ada dua pendapat :
Pendapat pertama, ma’mum yang mendapatkan ruku’ bersama imam sudah dihitung mendapat satu rekaat. Alasan-alasan mereka sebagai berikut
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ اَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ اَدْرَكَ الصَّلاَةَ. البخارى ١: ١٤٥
Dari AbuHurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mendapatkan satu ruku’ dari shalat, maka ia telah mendapatkan shalat itu”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 145]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ اَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ اَدْرَكَهَا قَبْلَ اَنْ يُقِيْمَ اْلاِمَامُ صُلْبَهُ. ابن خزيمة ٣: ٤٥،رقم:١٥٩٥
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mendapatkan satu ruku’ dalam shalat (sebelum imam menegakkan punggungnya) maka ia telah mendapatkan shalat itu”. [HR. Ibnu Khuzaimah juz 3, hal. 45, no. 1595, dla’if karena dalam sanadnya ada perawi bernama Kurrah bin ‘Abdur Rahman].
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا جِئْتُمْ اِلَى الصَّلاَةِ وَ نَحْنُ سُجُوُدٌ فَاسْجُدُوْا وَ لاَ تَعُدُّوْ هَا شَيْئًا. وَمَنْ اَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ اَدْرَكَ الصَّلاَةَ. ابو داود  ١: ٢٣٦، رقم٨٩٣
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Apabila kalian datang untuk shalat sedang kami dalam keadaan sujud, maka bersujudlah kalian. Dan janganlah dihitung (satu rekaat). Dan barangsiapa mendapatkan satu ruku’, berarti ia mendapatkan shalat itu". [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 236, no. 893, dla’if karena dalam sanadnya ada perawi bernama Yahya bin Sulaiman].
عَنْ اَبِى بَكْرَةَ اَنَّهُ انْتَهَى اِلىَ النَّبِىّ ص وَ هُوَ رَاكِعٌ، فَرَكَعَ قَبْلَ اَنْ يَصِلَ اِلَى الصَّفّ، فَذَكَرَ ذِلكَ لِلنَّبِىّ ص، فَقَالَ: زَادَكَ اللهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ. البخارى ١ :١٩٠
Dari Abu Bakrah bahwasanya ia mendapati Nabi SAW sedang ruku’, maka ia ikut ruku’ sebelum sampai pada shaff. Lalu ia menyampaikan hal itu kepada Nabi SAW. Maka beliau SAW bersabda, “Semoga Allah menambahkan kebaikan atas semangatmu, dan jangan kamu ulangi”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 190]
عَنِ اْ لحَسَنِ اَنَّ اَبَا بَكْرَةَ جَاءَوَ رَسُوْلُ اللهِ ص رَاكِعٌ فَرَكَعَ دُوْنَ الصَّفّ شُمَّ مَشَى اِلىَ الصَّفّ. فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ ص صَلاَتَهُ قَالَ: اَيُّكُمُ الَّذِيْ رَكَعَ دُوْنَ الصَّفّ شُمَّ مَشَى اِلىَ الصَّفّ؟، فَقَالَ اَبُوْ بَكْرَةَ: اَنَا. فَقَالَ النَّبِيُّ ص: زَادَكَ اللهُ حِرْصًاوَلاَتَعُدْ. ابو داود ١: ١٨٢، رقم:٦٨٤
Dari Al-Hasan bahwasanya Abu Bakrah datang (di masjid), ketika Rasulullah SAW sedang ruku’, maka ia ikut ruku’ sebelum sampai di shaff, kemudian ia berjalan menuju shaff. Maka setelah Nabi SAW selesai shalat, beliau bersabda, “Siapa diantara kalian yang ruku’ sebelum sampai di shaff, kemudian berjalan ke shaff ?”. Maka Abu Bakrah menjawab, “Saya”. Maka Nabi SAW bersabda, “Semoga Allah menambah kebaikan kepadamu atas semangatmu, dan jangan kamu ulangi”. [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 182, no. 684]
عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ: مَنْ اَدْرَكَ اْلاِمَامَ رَاكِعًا، فَرَكَعَ قَبْلَ اَنْ يَرْفَعَ اْلاِمَامُ رَأْسَهُ فَقَدْ اَدْرَكَ تِلْكَ الرَّكْعَةَ. البيهقى ٢ : ٩٠
Dari Ibnu ‘Umar, ia mengatakan, “Barangsiapa mendapati imam sedang ruku’, lalu ikut ruku’ sebelum imam mengangkat kepalanya, maka ia telah mendapatkan rekaat itu”. [HR. Baihaqi juz 2, hal. 90]
عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ قَالَ : خَرَ جْتُ مَعَ عَبْدِ اللهِ يَعْنِى ابْنَ مَسْعُوْدٍ مِنْ دَارِهِ اِلَى الْمَسْجِدِ، فَلَمَّ تَوَ سَّطْنَا الْمَسْجِدَ رَكَعَ الاِمَامُ، فَكَبَّرَ عَبْدُ اللهِ وَ رَكَعَ وَرَكَعْتُ مَعَهُ، شُمَ مَشَيْنَا رَاكِعَيْنِ حَتَّى انْتَهَيْنَا اِلَى الصَّفّ حِيْنَ رَفَعَ الْقَوْمُ رُءُوْسَهُمْ، فَلَمَّا قَضَى الاِمَامُ الصَّلاَةَ قُمْتُ وَ اَنَا اَرَى اَنّى لَمْ اَدْرِكْ، فَاَخَذَ عَبْدُ اللهِ بِيَدِى وَ اَجْلَسَنِى، شُمَّ قَالَ: اِنَّكَ قَدْ اَدْرَكْتَ. البيهقى ٢: ٩٠
Dari Zaid bin Wahab, ia berkata, “Aku keluar bersama ‘Abdullah, yakni Ibnu Mas’ud dari rumahya menuju masjid. Ketika kami sudah sampai di bagian tengah masjid, imam ruku’, maka ‘Abdullah bin Mas’ud bertakbir kemudian ruku’, dan akupun ikut ruku’ bersamanya. Kemudian kami berjalan sambil ruku’ sehingga sampai ke dalam shaff ketika orang-orang sudah mengangkat kepala mereka. Setelah imam menyelesaikan shalat, aku bangkit, karena aku mengira belum mendapatkan satu rekaat. Namun ‘Abdullah menarik tanganku dan mendudukkanku sambil berkata, “Sesungguhnya engkau telah mendapatkan (rekaat itu)”. [HR. Baihaqi juz2, hal. 90]
عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ اَخْبَرَنِىى اَبُوْ اُمَامَةَ بْنُ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ: اَنَّهُ رَأَى زَيْدَ بْنَ شَابِتٍ دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَ الْاِمَامُ رَاكِعٌ فَمَشَى حَتَّى اَمْكَنَهُ اَنْ يَصِلَ الصَّفَّ وَ هُوَ رَاكِعٌ، كَبَّرَ فَرَ كَعَ شُمَّ دَبَ وَ هُوَ رَاكِعٌ حَتَّى وَ صَلَ الصَّفَّ. البيهقى ٢: ٩٠
Dari Ibnu Syihab, ia berkata : Mengkhabarkan kepadaku Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, bahwasanya ia melihat Zaid bin Tsabit masuk ke dalam masjid pada saat imam sedang ruku’. Kemudian ia berjalan supaya memungkinkan baginya untuk mencapai shaff dalam keadaan ruku’, maka ia bertakbir lalu ruku’. Kemudian ia berjalan sambil ruku’ sehingga sampai di shaff. [HR. Baihaqi juz 2, hal. 90]
Keterangan :
Dengan dasar hadits dan riwayat di atas mereka memahami perkataan“rak’atan” diartikan ruku’, dan mereka memahami “walaa ta’ud” dengan jangan mengulangi shalat, sehingga apabila ma’mum masbuq mendapatkan ruku’ bersama imam, maka sudah dihitung mendapat satu rekaat.

Pendapat kedua, ma’mum masbuq yang tidak mendapatkan Al-Fatihah tidak dihitung satu rekaat, meskipun mendapatkan ruku’ bersama imam, dengan alasan :
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: لَاصَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ. البخارى ١: ١٨٤
Dari ‘Ubadah bin Shaamit bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Tidak(sah) shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah”. [HR. Bukhari juz1, hal. 184]
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: لَاصَلَاةَ لمِنْ لَمْ يَقْرَأْ بِاُمُّ الْقُرْاَنِ. مسلم ١: ٢٩٥
Dari ‘Ubadah bin Shaamit bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Tidak(sah) shalat bagi orang yang tidak membaca Ummul Qur’an (Al-Fatihah)”. [HR. Muslim juz 1, hal. 295]
عَنْ اَبِىى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اِذَا سَمِعْتُمُ اْلاِقَامَةَ فَامْشُوْا اِلَى الصَّلَاةِوَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِيْنَةِ وَ الْوَقَارِوَلاَتُسْرِ عُوْا، فَمَااَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوْاوَمَافَاتَكُمْ فَاَتِمُّوْا. البخارى ١: ١٥٦
Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Apabila kalian mendengar iqamah, berjalanlah (menuju masjid) untuk shalat, dan hendaklah kalian datang dengan tenang dan tunduk, dan janganlah tergesa-gesa. Apa yang kamu dapati shalatlah (bersama imam), dan apa yang kamu ketinggalan sempurnakanlah”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 156]]
Keterangan :
Berdasarkan hadits-hadits di atas mereka memahami bahwa ma’mum masbuq yang mendapatkan ruku’ bersama imam, belum dihitung satu rekaat, karena tidak mendapatkan Al-Fatihah, sedangkan Al-Fatihah adalah salah satu rukun shalat, artinya : kalau rukun tidak dikerjakan maka shalatnya tidak sah. Apabila ma’mum masbuq mengalami yang demikian itu, maka ketika imam salam, ia tidak ikut salam, tetapi menyempurnakan rekaat yang kurang tadi.
Penjelasan :
1.    Dalam hal ini kami sependapat dengan pendapat kedua, dengan alasan sebagaimana di  atas.
2.    Adapun hadits  )  مَنْ اَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ اَدْرَكَ الصَّلَاةَ   ) itu
memang benar, tetapi arti “ar-rak’ata” di situ adalah rekaat, bukan ruku’. Maksud hadits tersebut begini : Barangsiapa yang shalat Dhuhur mendapat satu rekaat, lalu terdengar adzan ‘Ashar, maka orang tersebut masih terhitung shalat pada waktunya, begitu pula kalau seseorang shalat ‘Ashar mendapat satu rekaat, lalu terdengar adzan Maghrib, berarti orang tersebut terhitung shalat ‘Ashar masih dalam waktunya. Hal ini sesuai dengan hadits berikut ini :
عَنْ اَبِىى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسَوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ اَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصُّبْحِ قَبْلَ اَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَقَدْ اَدْرَكَ الصُّبْحَ. وَ مَنْ اَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ اَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقَدْ اَدْرَكَ الْعَصْرَ. مسلم ١: ٤٢٤
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mendapatkan satu rekaat dari shalat Shubuh sebelum matahari terbit, maka berarti dia telah mendapatkan shalat Shubuh itu (keseluruhannya). Dan barangsiapa mendapatkan satu rekaat dari shalat ‘Ashar sebelum matahari terbenam, maka berarti dia telah mendapatkan shalat ‘Ashar itu (keseluruhannya)”. [HR. Muslim juz 1, hal. 424]
3.    Memang rak’ah bisa berarti ruku’ kalau ada qarinah yang membawa kepada arti tersebut, seperti hadits di bawah ini :
عَنْ اَبِىى هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا قَامَ اِلَىى الصَّلَاةِ يُكَبّرُ حِيْنَ يَقُوْمُ، شُمَّ يَكُوْلُ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ حِيْنَ يَرْفَعُ صُلْبَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ، شُمَّ يَقُوْلُ وَ هُوَ قَائِمٌ: رَبَّنَا لَكَ اْلحَمْدُ، شُمَّ يُكَبّرُ حِيْنَ يَهْوِ ي سَا جِدًا. احمد
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Adalah Rasulullah SAW apabila berdiri shalat, beliau bertakbir ketika berdiri, kemudian bertakbir ketika ruku', kemudian membaca “Sami'alloohu liman hamidah” ketika mengangkat tulang belakangnya (ketika bangkit) dari ruku', kemudian membaca Robbanaa lakal-hamdu” dalam keadaan berdiri. Kemudian beliau “ bertakbir ketika menunduk sujud. [HR. Ahmad]
عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص جَهَرَ فِىى صَلَاةِ اْلخُسُوْفِ بِقِرَاءَتِهِ فَصَلَّى اَرْبَعَ رَ كَعَا تٍ فِىى رَ كْعَتَيْنِ وَ اَرْبَعَ سَجَدَاتٍ. مسلم ٢: ٦٢٠
Dari ‘Aisyah bahwasanya Nabi SAW membaca jahr dalam shalat gerhana dan beliau shalat dengan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka'at. [HR. Muslim 2 : 620]
Tetapi selama tidak ada qarinah atau sebab-sebab yang memalingkan kata rak’ah kepada arti ruku’, maka rak’ah artinya adalah rekaat.
4. Adapun memahami sabda Nabi SAW kepada Abu Bakrah (  وَلَا تَعُدْ   )
itu dengan “dan jangan kamu ulangi shalatmu, karena shalat itu sudah sempurnya”. Pemahaman tersebut tidak benar, karena maksud Nabi SAW itu adalah, “lain kali jangan kamu ulangi perbuatan seperti itu”, yaitu takbir (sebelum sampai di shaff), lalu ikut ruku’ di luar shaff, kemudian berjalan menuju shaff dalam keadaan ruku’.
5. Ada lagi yang mengambil dasar “mendapatkan ruku’ bersama imam ini dihitung satu rekaat”, dengan berdasar hadits riwayat Abu Dawud, yang disebutkan dalam buku Fiqh Islam oleh H. Sulaiman Rasyid halaman
114, bab Hukum Masbuq :
اِذَا جَاءَاَحَدُكُمُ الصَّلَاةَ وَ نَحْنُ سُجُوْدٌ فَاسْجُدُوْا وَ لاَ تَعُدُّ هَا شَيْئًا وَ مَنْ اَدْرَكَ الرُّ كُوْ عَ فَقَدْ اَدْرَكَ الرَّكْعَةَ.ابوداود
Apabila seseorang diantara kamu datang untuk shalat sewaktu kami sujud, hendaklah kamu sujud, dan janganlah kamu hitung itu satu rekaat; dan barangsiapa mendapati ruku’ beserta imam, maka ia telah mendapat satu rekaat. [HR. Abu Dawud]
Mengambil dasar dengan hadits tersebut tidak benar, karena lafadh tersebut dalam kitab Sunan Abu Dawud tidak ada. (Sudah kami cari dalam Sunan Abu Dawud, tidak kami temukan).
6. Adapun perbuatan shahabat Zaid bin Tsabit, Ibnu Mas’ud dan lainnya, melakukan ruku’ di luar shaff, lalu sambil ruku’ berjalan menuju shaff, itu tidak bisa dijadikan dasar untuk diikuti, karena seandainya riwayat itu betul, maka pemahamannya adalah sebagai berikut :
Beliau-beliau itu melakukan ruku’ di luar shaff lalu sambil ruku’ berjalan menuju shaff itu tentu tidak sepengetahuan Nabi SAW (memang dalam riwayat itu tidak ada qarinah yang menunjukkan bahwa hal itu dilakukan dengan sepengetahuan Nabi SAW), dan ternyata ketika Abu Bakrah melakukan demikian dan diketahui oleh Rasulullah SAW, maka beliau melarangnya. Pemahaman ini dikuatkan dengan riwayat sebagai berikut :
عَنِ اْلاَعْرَجِ قَالَ: قُلْتُ لِاَبِىى هُرَيْةا: يَرْكَعُ اْلاِ مَامُ وَ لَمْ اَصِلْ اِلَىى الصَّفّ اَفَاَرْكَعُ؟ فَاَخَذَ بِرِجْلِى، وَقَالَ: لاَ يَا اَعْرَجُ حَتَّى تَأْخُذَ مَقَامَكَ مِنَ الصَّفّ. ابن عبد البر ف الاستذ كار ٦: ٢٤٦، رقم: ٨٨٣٤
Dari Al-A’raj, ia berkata : Aku bertanya kepada Abu Hurairah, “Apabila imam sedang ruku’ sedangkan aku belum sampai pada shaff, apakah aku boleh ruku’ (ketika itu) ?”. Maka Abu Hurairah memegang kakiku, lalu berkata, “Tidak wahai A’raj, sehingga kamu sampai pada tempatmu di shaff”. [HR. Ibnu ‘Abdil Barr dalam Al-Istidzkar juz 6, hal. 246, no 8834]

عَنْ اَبِىى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا جَا ءَ اَحَدَ كُمُ الصَّلَاةَ فَلَا يَرْ كَعْ دُوْنَ الصَّفّ حَتَّى يَأْ خُذَ مَكَانَهُ مِنَ الصَّفّ. ابن عبد البر فى الاستذ كار ٦: ٢٤٦،رقم:٨٨٣٦
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seseorang diantara kalian datang untuk shalat, maka janganlah ruku’ di luar shaff sehingga ia berada pada tempatnya di shaff”. [HR. Ibnu ‘Abdil Barr dalam Al-Istidzkar juz 6, hal. 246, no. 8836]
Kita dilarang membaca surat atau ayat saat imam membaca jaher sesuai dengan surat Al A'raaf  ayat 204

dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.( Al A'raaf  ayat 204)




~oO[ @ ]Oo~


Jumat, 13 Februari 2015

Pendapat ‘Mereka’ Tentang Nabi Muhammad

Seringkali kita dengar tuduhan-tuduhan miring terhadap junjungan Umat Islam yakni Nabi besar Muhammad Saw dari segelintir orang yang tampaknya tidak begitu apresiatif terhadap Islam. Pernyataan-perntaan yang berkonotasi negatif (penulis tak mau menyebutkannya) tersebut terdengar sudah tidak proposional lagi dan sangat jauh dari kesan dialog-dialog yang sehat. Kita harapkan bersama semoga umat Islam tidak terpancing untuk melakukan hal yang sama untuk menjawab fitnah-fitnah “mereka” tersebut. Berikut saya kutipkan sebuah postingan dari  salah satu forum diskusi lintas agama yang kebetulan saat itu sedang membahas permasalahan ini.
Mr. Bond (sebetulnya nickname tersebut adalah saya sendiri) :
Menarik juga mengikuti dialog agama di forum-forum dunia maya seperti ini. Tapi satu hal yang tidak mengenakkan. Dialog yang dilakukan dengan cara “pembunuhan karakter” seperti yang  sering dilakukan beberapa rekan anggota forum situs ini atau di forum-forum dialog sejenis lain. Yaitu penghujatan pada Rasul Umat Islam yakni Nabi Muhammad Saw.
Sebelumnya patut anda ketahui bersama, Muhammad merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah peradaban manusia. Anda boleh mencari buku sejarah manapun di dunia ini (Tentu saja yang objektif, ya!). Ketokohan Nabi Muhammad ini tergambar jelas (contoh kecil, anda tahu di gedung Mahkamah Agung Amerika, Nabi Muhammad di gambarkankan sebagai salah satu tokoh dunia yang diakui ikut memperjuangkan dan menegakkan hukum dan keadilan dalam sejarah peradaban manusia.
Penokohan itu mungkin terlepas dari apakah wahyu yang di terimanya benar dari Tuhan atau tidak (bagi kami umat Islam, kami yakin 100% beliau memang menerima wahyu dari Tuhan). Tapi yang jelas pengaruhnya sebagai manusia manusia telah mengakibatkan miliaran manusia di dunia mengikuti ajarannya hingga saat ini.. Miliaran manusia telah menjadikan Al Qur’an dan Hadis yang beliau bawa sebagai pedoman dalam menjalani hidup di dunia ini. Dan anda tahu sendiri, jumlah tersebut semakin hari terus bertambah. Anda tak bisa menutup mata akan kenyataan ini.
Mungkin jika saya mengemukakan pembelaan dari tokoh-tokoh muslim tentang Nabi Muhammad mungkin sebagian “anda” tidak akan percaya. Nah, kita coba lihat pendapat tokoh–tokoh orientalis dari “kalangan anda sendiri” yang mungkin lebih dapat anda percayai. Beberapa orang diantara “mereka” yang mengakui peran Muhammad dalam dunia, sedikit diantaranya mungkin pernah anda dengar namanya:
Encyclopedia Britannica
“Sejumlah besar sumber awal menunjukkan bahwa dia adalah seseorang yang jujur dan berbudi baik yang dihormati dan ditaati orang-orang yang sepertinya
(jujur dan berbudi baik) (Vol. 12)”
Mahatma Gandhi (Komentar mengenai karakter Muhammad di
Young India:
“Pernah saya bertanya-tanya siapakah tokoh yang paling mempengaruhi manusia… Saya lebih dari yakin bahwa bukan pedanglah yang memberikan kebesaran pada Islam pada masanya. Tapi ia datang dari kesederhanaan,
kebersahajaan, kehati-hatian Muhammad; serta pengabdian luar biasa kepada teman dan pengikutnya, tekadnya, keberaniannya, serta keyakinannya pada Tuhan dan tugasnya. Semua ini (dan bukan pedang ) menyingkirkan segala halangan. Ketika saya menutup
halaman terakhir volume 2 (biografi Muhammad), saya sedih karena tiada lagi cerita yang tersisa dari hidupnya yang agung.”
Sir George Bernard Shaw (The Genuine Islam,’ Vol. 1, No. 8, 1936.)
“Jika ada agama yang berpeluang menguasai Inggris – bahkan Eropa – beberapa ratus tahun dari sekarang, Islam-lah agama tersebut.”
” Saya senantiasa menghormati agama Muhammad karena potensi yang dimilikinya. Ini adalah satu-satunya agama yang bagi saya memiliki kemampuan menyatukan dan
merubah peradaban. Saya sudah mempelajari Muhammad – sesosok pribadi agung yang jauh dari kesan seorang anti-kristus, dia harus dipanggil ‘sang penyelamat kemanusiaan’.”
“Saya yakin, apabila orang semacam Muhammad memegang kekuasaan tunggal di dunia modern ini, dia akan berhasil mengatasi segala permasalahan sedemikian hingga membawa kedamaian dan kebahagiaan yang dibutuhkan dunia: Ramalanku, keyakinan yang dibawanya akan diterima Eropa di masa datang dan memang ia telah mulai diterima Eropa saat ini”
“Dia adalah manusia teragung yang pernah menginjakkan kakinya di bumi ini. Dia membawa sebuah agama, mendirikan sebuah bangsa, meletakkan dasar-dasar moral, memulai sekian banyak gerakan pembaruan sosial dan politik, mendirikan sebuah masyarakat yang kuat dan dinamis untuk melaksanakan dan mewakili seluruh
ajarannya, dan ia juga telah merevolusi pikiran serta perilaku manusia untuk seluruh masa yang akan datang.
Dia adalah Muhammad (SAW). Dia lahir di Arab tahun 570 masehi, memulai misi mengajarkan agama kebenaran, Islam (penyerahan diri pada Tuhan) pada usia 40 dan meninggalkan dunia ini pada usia 63.
Sepanjang masa kenabiannya yang pendek (23 tahun) dia telah merubah Jazirah Arab dari paganisme dan pemuja makhluk menjadi para pemuja Tuhan yang Esa, dari
peperangan dan perpecahan antar suku menjadi bangsa yang bersatu, dari kaum pemabuk dan pengacau menjadi kaum pemikir dan penyabar, dari kaum tak berhukum dan
anarkis menjadi kaum yang teratur, dari kebobrokan ke keagungan moral. Sejarah manusia tidak pernah mengenal tranformasi sebuah masyarakat atau tempat sedahsyat
ini – dan bayangkan ini terjadi dalam kurun waktu hanya sedikit di atas dua dekade.”
Michael H. Hart (The 100: A Ranking Of The Most Influential Persons History, New York, 1978)
Pilihan saya untuk menempatkan Muhammad pada urutan teratas mungkin mengejutkan semua pihak, tapi dialah satu-satunya orang yang sukses baik dalam tataran sekular maupun agama. (hal. 33). Lamar tine, seorang sejarawan terkemuka menyatakan bahwa:
“Jika keagungan sebuah tujuan, kecilnya fasilitas yang diberikan untuk mencapai tujuan tersebut, serta menakjubkannya hasil yang dicapai menjadi tolok ukur kejeniusan seorang manusia; siapakah yang berani membandingkan tokoh hebat manapun dalam sejarah modern dengan Muhammad? Tokoh-tokoh itu membangun pasukan, hukum dan kerajaan saja. Mereka hanyalah menciptakan kekuatan-kekuatan material yang hancur bahkan di depan mata mereka sendiri.
Muhammad bergerak tidak hanya dengan tentara, hukum, kerajaan, rakyat dan dinasti, tapi jutaan manusia di dua per tiga wilayah dunia saat itu; lebih dari itu, ia telah merubah altar-altar pemujaan, sembahan, agama, pikiran, kepercayaan serta jiwa… Kesabarannya dalam kemenangan dan ambisinya yang dipersembahkan untuk satu tujuan tanpa sama sekali berhasrat membangun kekuasaan, sembahyang-sembahyangnya, dialognya dengan Tuhan, kematiannnya dan kemenangan-kemenangan (umatnya) setelah kematiannya; semuanya membawa keyakinan umatnya hingga ia memiliki kekuatan untuk mengembalikan sebuah dogma. Dogma yang mengajarkan ketunggalan dan kegaiban (immateriality) Tuhan yang mengajarkan siapa sesungguhnya Tuhan. Dia singkirkan tuhan palsu dengan kekuatan dan mengenalkan tuhan yang sesungguhnya dengan kebijakan. Seorang filsuf yang juga seorang orator, apostle (hawariyyun, 12 orang pengikut Yesus-pen.), prajurit, ahli hukum, penakluk ide, pegembali dogma-dogma rasional dari sebuah ajaran tanpa pengidolaan, pendiri 20 kerajaan di bumi dan satu kerajaan spiritual, ialah Muhammad. Dari semua standar bagaimana kehebatan seorang manusia diukur, mungkin kita patut bertanya: adakah orang yang lebih agung dari dia?”
Lamar time, Histoire De La Turquie, Paris, 1854, Vol. II, pp 276-277
“Dunia telah menyaksikan banyak pribadi-pribadi agung. Namun, dari orang orang tersebut adalah orang yang sukses pada satu atau dua bidang saja misalnya agama atau militer. Hidup dan ajaran orang-orang ini seringkali terselimuti kabut waktu dan zaman. Begitu banyak spekulasi tentang waktu dan tempat lahir mereka, cara dan gaya hidup mereka, sifat dan detail ajaran mereka, serta tingkat dan ukuran kesuksesan mereka sehingga sulit bagi manusia untuk merekonstruksi ajaran dan hidup tokoh-tokoh ini.
Tidak demikian dengan orang ini. Muhammad (SAW) telah begitu tinggi menggapai dalam berbagai bidang pikir dan perilaku manusia dalam sebuah episode cemerlang sejarah manusia. Setiap detil dari kehidupan pribadi dan ucapan-ucapannya telah secara akurat didokumentasikan dan dijaga dengan teliti sampai saat ini. Keaslian ajarannya begitu terjaga, tidak saja oleh karena penelusuran yang dilakukan para pengikut setianya tapi juga oleh para penentangnya.
Muhammad adalah seorang agamawan, reformis sosial, teladan moral, administrator massa, sahabat setia, teman yang menyenangkan, suami yang penuh kasih dan seorang ayah yang penyayang – semua menjadi satu. Tiada lagi manusia dalam sejarah melebihi atau bahkan menyamainya dalam setiap aspek kehidupan tersebut – hanya dengan kepribadian seperti dia-lah keagungan seperti ini dapat diraih.”
K. S. Ramakrisna Rao, Professor Philosophy dalam bookletnya, “Muhammad, The Prophet of Islam”
Kepribadian Muhammad, hhmm sangat sulit untuk menggambarkannya dengan tepat. Saya pun hanya bisa menangkap sekilas saja: betapa ia adalah lukisan yang indah. Anda bisa lihat Muhammad sang Nabi, Muhammad sang pejuang, Muhammad sang pengusaha, Muhammad sang negarawan, Muhammad sang orator ulung, Muhammad sang pembaharu, Muhammad sang pelindung anak yatim-piatu, Muhammad sang pelindung hamba sahaya, Muhammad sang pembela hak wanita, Muhammad sang hakim, Muhamad sang pemuka agama. Dalam setiap perannya tadi, ia adalah seorang pahlawan.
Saat ini, 14 abad kemudian, kehidupan dan ajaran Muhammad tetap selamat, tiada yang hilang atau berubah sedikit pun. Ajaran yang menawarkan secercah harapan abadi tentang obat atas segala penyakit kemanusiaan yang ada dan telah ada sejak masa hidupnya. Ini bukanlah klaim seorang pengikutnya tapi juga sebuah simpulan tak terelakkan dari sebuah analisis sejarah yang kritis dan tidak bias.
Prof. Snouck Hugronje
Liga bangsa-bangsa yang didirikan Nabi umat Islam telah meletakkan dasar-dasar persatuan internasional dan persaudaraan manusia di atas pondasi yang universal yang menerangi bagi bangsa lain.
Buktinya, sampai saat ini tiada satu bangsa pun di dunia yang mampu menyamai Islam dalam capaiannya mewujudkan ide persatuan bangsa-bangsa.
Dunia telah banyak mengenal konsep ketuhanan, telah banyak individu yang hidup dan misinya lenyap menjadi legenda. Sejarah menunjukkan tiada satu pun legenda ini yang menyamai bahkan sebagian dari apa yang Muhammad capai. Seluruh jiwa raganya ia curahkan untuk satu tujuan: menyatukan manusia dalam pengabdian kapada Tuhan dalam aturan-aturan ketinggian moral. Muhammad atau pengikutnya tidak pernah dalam sejarah menyatakan bahwa ia adalah putra Tuhan atau reinkarnasi Tuhan atau seorang jelmaan Tuhan – dia selalu sejak dahulu sampai saat ini menganggap dirinya dan dianggap oleh pengikutnya hanyalah sebagai seorang pesuruh yang dipilih Tuhan.
Thomas Carlyle in his Heroes and Heroworship

“(Betapa menakjubkan) seorang manusia sendirian dapat mengubah suku-suku yang saling berperang dan kaum nomaden (Baduy) menjadi sebuah bangsa yang paling maju dan paling berperadaban hanya dalam waktu kurang dari dua decade.”
“Kebohongan yang dipropagandakan kaum Barat yang diselimutkan kepada orang ini (Muhammad) hanyalah mempermalukan diri kita sendiri.”
“Sesosok jiwa besar yang tenang, seorang yang mau tidak mau harus dijunjung tinggi. Dia diciptakan untuk menerangi dunia, begitulah perintah Sang Pencipta Dunia.”
Edward Gibbon and Simon Ockley speaking on the profession of Islam write:
” ‘Saya percaya bahwa Tuhan adalah tunggal dan Muhammad adalah pesuruh-Nya’ adalah pengakuan kebenaran Islam yang simpel dan seragam. Tuhan tidak pernah dihinakan dengan pujaan-pujaan kemakhlukan; penghormatan terhadap Sang Nabi tidak pernah berubah menjadi pengkultusan berlebihan; dan prinsip-prinsip hidupnya telah memberinya penghormatan dari pengikutnya dalam batas-batas akal dan agama (History Of The Saracen Empires, London, 1870, p. 54).
Muhammad tidak lebih dari seorang manusia biasa. Tapi ia adalah manusia dengan tugas mulia untuk menyatukan manusia dalam pengabdian terhadap satu dan hanya satu Tuhan serta untuk mengajarkan hidup yang jujur dan lurus sesuai perintah Tuhan. Dia selalu menggambarkan dirinya sebagai ‘hamba dan pesuruh Tuhan’ dan demikianlah juga setiap tindakannya.
Sarojini Naidu, penyair terkenal India (S. Naidu, Idelas of Islam, vide Speeches & Writings, Madras, 1918, p. 169):
Inilah agama pertama yang mengajarkan dan mempraktekkan demokrasi; di setiap masjid, ketika adzan dikumandangkan dan jemaah telah berkumpul, demokrasi dalam Islam terwujud lima kali sehari ketika
seorang hamba dan seorang raja berlutut berdampingan dan mengakui: ‘Allah Maha Besar’… Saya terpukau lagi dan lagi oleh kebersamaan Islam yang secara naluriah membuat manusia menjadi bersaudara.
Diwan Chand Sharma
“Muhammad adalah sosok penuh kebaikan, pengaruhnya dirasakkan dan tak pernah dilupakan orang-orang terdekatnya.
(D.C. Sharma, The Prophets of  The East, Calcutta, 1935, pp. 12)
James A. Michener, “Islam: The Misunderstood Religion,” in Reader’s (American edition), May 1955, pp. 68-70.
Muhammad, seorang inspirator yang mendirikan Islam, dilahirkan pada tahun 570 masehi dalam masyarakat Arab penyembah berhala. Yatim semenjak kecil dia secara khusus memberikan perhatian kepada fakir miskin, yatim piatu dan janda, serta hamba sahaya dan kaum lemah. Di usia 20 tahun, dia sudah menjadi seorang pengusaha yang sukses, dan menjadi pengelola bisnis seorang janda kaya. Ketika mencapai usia 25, sang majikan melamarnya. Meski usia perempuan tersebut 15 tahun lebih tua Muhammad menikahinya dan tetap setia kepadanya sepanjang hayat sang istri.
“Seperti halnya para nabi lain, Muhammad memulai tugas kenabiannya dengan sembunyi2 dan ragu2 karena menyadari kelemahannya. Tapi “Baca” adalah perintah yang diperolehnya, -dan meskipun sampai saat ini diyakini bahwa Muhammad tidak bisa membaca dan menulis – dan keluarlah dari mulutnya satu kalimat yang akan segera mengubah dunia: “Tiada tuhan selain Tuhan.”
“Dalam setiap hal, Muhammad adalah seorang yang mengedepankan akal. Ketika putranya, Ibrahim, meninggal disertai gerhana dan menimbulkan anggapan ummatnya bahwa hal tersebut adalah wujud rasa belasungkawa Tuhan kepadanya, Muhammad berkata: “Gerhana adalah sebuah kejadian alam biasa, adalah suatu kebodohan mengkaitkannya dengan kematian atau kelahiran seorang manusia.”
“Sesaat setelah ia meninggal, sebagian pengikutnya hendak memujanya sebagaimana Tuhan dipuja, akan tetapi penerus kepemimpinannya (Abu Bakar-pen.) menepis keingingan ummatnya itu dengan salah satu pidato relijius terindah sepanjang masa: ‘Jika ada diatara kalian yang menyembah Muhammad, maka ketahuilah bahwa ia telah meninggal. Tapi jika Tuhan-lah yang hendak kalian sembah, ketahuilah bahwa Ia hidup selamanya”. (Ayat terkait: Q.S. Al Imran, 144 – pen.)
W. Montgomery Watt, Mohammad At Macca, Oxford, 1953, p. 52.
“Kesiapannya menempuh tantangan atas keyakinannya, ketinggian moral para pengikutnya, serta pencapaiannya yang luar biasa – semuanya menunjukkan integritasnya. Mengira Muhammad sebagai seorang penipu hanyalah memberikan masalah dan bukan jawaban. Lebih dari itu, tiada figur hebat yang digambarkan begitu buruk di Barat selain Muhammad”
Annie Besant, The Life and Teaching Of Muhammad, 1932, p. 4.
“Sangat mustahil bagi seseorang yang memperlajari karakter Nabi Bangsa Arab, yang mengetahui bagaimana ajarannya dan bagaimana hidupnya untuk merasakan selain hormat terhadap beliau, salah satu utusan-Nya. Dan meskipun dalam semua yang saya gambarkan banyak hal-hal yang terasa biasa, namun setiap kali saya membaca ulang kisah-kisahnya, setiap kali pula saya merasakan kekaguman dan penghormatan kepada sang Guru Bangsa Arab tersebut.”
Bosworth Smith, Mohammad and Mohamadanism, London, 1874, p. 92.
“Dia adalah perpaduan Caesar dan Paus; tapi dia adalah sang Paus tanpa pretensinya dan seorang caesar tanpa Legionnaire-nya: tanpa tentara, tanpa pengawal, tanpa istana, tanpa pengahasilan tetap; jika ada seorang manusia yang pantas untuk berkata bahwa dia-lah wakil Tuhan penguasa dunia, Muhammad lah orang itu, karena dia memiliki kekuatan meski ia tak memiliki segala instrument atau penyokongnya.”
John William Draper, M.D., L.L.D., A History of the Intellectual Development of Europe, London 1875, Vol.1, pp.329-330
“Empat tahun setelah kematian Justinian, pada 569 AD, telah lahir di
Mekkah Arabia seorang manusia yang sangat besar pengaruhnya terhadap ummat manusia … Muhammad”
John Austin, “Muhammad the Prophet of Allah,” in T.P. ‘s and Cassel’s Weekly for 24th September 1927.
”Dalam kurun waktu hanya sedikit lebih dari satu tahun, ia telah menjadi pemimpin di Madinah. Kedua tangannya memegang sebuah tuas yang siap mengguncang dunia.”
Professor Jules Masserman
“Pasteur dan Salk adalah pemimpin dalam satu hal (intelektualitas-pen). Gandhi dan Konfusius pada hal lain serta Alexander, Caesar dan Hitler mungkin pemimpin pada kategori kedua dan ketiga (reliji dan militer). Jesus dan Buddha mungkin hanya pada kategori kedua. Mungkin pemimpin terbesar sepanjang masa adalah Muhammad, yang sukses pada ketiga kategori tersebut. Dalam skala yang lebih kecil Musa melakukan hal yang sama.”
(berbagai sumber)
Bagaimana menurut anda.? Anda Boleh tidak setuju. Dan mengatakan semua itu mengada-ada dan rekayasa semata.  Itu hak anda. Tapi anda lihat sendiri kenyataannya. Islam adalah agama terbesar nomor dua di dunia. Setidaknya itu bukti pengaruh Muhammad terhadap dunia. Penyataan-pernyataan atau tuduhan-tuduhan bernada  negatif  terhadap Nabi Muhammad tersebut adalah pernyatan yang tidak beralasan sama sekali.