TENTANG
MA’MUM MASBUQ
Beberapa
pengertian
Sebelum kita membahas tentang ma’mum masbuq, ada
baiknya kita mengetahui dulu beberapa pengertian yang terkait dengan hal itu,
karena ma’mum masbuq adalah keadaan dimana seseorang itu terlambat dalam
mengikuti shalat berjama’ah
Shalat
Secara
bahasa berarti do’a, tetapi yang dimaksud shalat menurut istilah ialah ibadah
yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan
takbiratul ihram dan disudahi dengan salam, dan memenuhi beberapa syarat dan
rukunnya yang telah ditentukan Allah SWT.
Shalat berjama’ah
Jama’ah
pengertiannya adalah bersama-sama, yang satu jadi imam dan yang lainmenjadi
ma’mum. Apabila ada dua orang atau lebih shalat bersama-sama, dan salah seorang
diantara mereka diikuti oleh yang lainnya, yang demikian itu disebut shalat
berjama’ah. Orang yang diikuti disebut imam, dan orang yang mengikuti disebut
ma’mum.
Ma’mum masbuq
Masbuq
pengertiannya, ketinggalan. Ma’mum masbuq adalah ma’mum dalam shalat
berjama’ah, namun si ma’mum mulai shalatnya tidak sejak awwal, sehingga ma’mum
tersebut tidak sempurna membaca Al-Fatihah beserta imam di rekaat pertama.
Tentang mendapatkan fadhilah shalat berjama’ah
Untuk
mendapatkan fadhilah shalat berjama’ah, ini bisa diperoleh dengan cara ma’mum ikut
bersama imam dalam shalatnya, walaupun ia hanya mendapatkan duduk yang terakhir
sebelum salam. Berdasarkan hadits :
عَنْ اَبِى هُرَ يْرَ ةَ عَنِ النَّبِيّ ص قاَلَ : اِذَا سَمِعْتُمُ اْلاِقَا
مَةَ فَا مْشُوْا اِلَى الصَّلاَةِ وَ عَلَيْكُمْ بِالسَّكِيْنَةِ وَ اْلوَ قَارِ وَ
لاَ تُسْرِ عُوْا ، فَمَااَدْرَ كْتُمْ فَصَلُّوْا وَ مَا فَاتَكُمْ فَاَتِمُّوْا.البخارى
١ : ١٥٦
Dari Abu
Hurairah, dari nabi SAW, beliau bersabda, “Apabila kalian mendengar iqamah,
berjalanlah (menuju masjid) untuk shalat, dan hendaklah kalian datang dengan
tenang dan tunduk, dan janganlah tergesa-gesa. Apa yang kalian dapatkan shalat
(bersama imam) maka shalatlah (bersama imam), dan apa yang kalian ketinggalan
maka sempurnakanlah”. [HR. Bukhari juz 1, hal.
156]
عَنْ
رَجُلٍ مِنْ اَهْلِ اْلمَدِيْنَةِ عَنِ النَّبِيّ ص اَنَّهُ سَمِعَ خَفِقَ نَعْلَيَّ
وَ هُوَ سَا جِدٌ فَلَمَّا فَرَ غَ مِنْ صَلاَتِهِ قَلَ مَنْ
هذَا الَّذِي سَمِعْتُ خَفْقَ نَعْلِهِ؟ قَالَ: اَنَا يَا
رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ: فَمَاصَنَعْتَ؟ قَالَ: وَجَدْتُكَ سَاجِدْتُكَ سَاجِدًا فَسَجَدْتُ.
فَقَالَ: هكَذَافَاصْنَعُوْا وَلاَتَعْتَدُّوْا بِهَا، مَنْ وَ جَدَنِي رَاكِعًااَوْقَائِمًا
اَوْسَاجِدًا فَلْيَكُنْ مَعِي عَلَى حَالِي الَّتِي اَنَا عَلَيْهَا.ابن ابى شيبة
ا: ٢٢٧، رقم:٢٦٠١
Diriwayatkan dari seorang penduduk Madinah, dari Nabi SAW bahwa
beliau mendengar suara sandal pada saat sedang sujud. Setelah selesai shalat,
beliau bertanya, “Siapakah orang yang tadi aku dengar suara sandalnya ?”. Ia
menjawab, “Saya, ya Rasulullah”. Beliau bertanya, “Apakah yang kamu lakukan ?”.
Ia menjawab, “Saya mendapati engkau sujud, maka akupun sujud”. Mendengar hal
itu beliau bersabda, “Seperti itulah yang seharusnya kalian lakukan, namun
jangan kalian hitung satu rekaat. Barangsiapa yang mendapati aku ruku’, berdiri
atau sujud maka hendaklah ia mengikuti keadaanku pada saat itu”. [HR. Ibnu Abi Syaibah, juz 1, hal. 227, no. 2601]
Dengan dasar hadits-hadits tersebut dapat dipahami bahwa ma’mum
masbuq tetap mendapatkan pahala shalat berjama’ah, tetapi pahalanya tidaklah
seperti pahala orang yang mengikuti jama’ah sejak awwal. Walloohu a’lam.
Ma’mum mendapatkan ruku’ bersama imam, apakah sudah dihitung
mendapat satu rekaat ?
Ulama
berbeda pendapat tentang ukuran seorang ma’mum mendapat satu rekaat bersama
imam. Tentang hal ini ada dua pendapat :
Pendapat
pertama, ma’mum yang mendapatkan ruku’ bersama
imam sudah dihitung mendapat satu rekaat. Alasan-alasan mereka sebagai berikut
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ
رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ اَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ اَدْرَكَ الصَّلاَةَ. البخارى ١: ١٤٥
Dari
AbuHurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mendapatkan satu
ruku’ dari shalat, maka ia telah mendapatkan shalat itu”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 145]
عَنْ
اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ اَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ
فَقَدْ اَدْرَكَهَا قَبْلَ اَنْ يُقِيْمَ اْلاِمَامُ صُلْبَهُ. ابن خزيمة ٣: ٤٥،رقم:١٥٩٥
Dari Abu
Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mendapatkan satu
ruku’ dalam shalat (sebelum imam menegakkan punggungnya) maka ia telah
mendapatkan shalat itu”. [HR. Ibnu Khuzaimah
juz 3, hal. 45, no. 1595, dla’if karena dalam sanadnya ada perawi bernama
Kurrah bin ‘Abdur Rahman].
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا جِئْتُمْ
اِلَى الصَّلاَةِ وَ نَحْنُ سُجُوُدٌ فَاسْجُدُوْا وَ لاَ تَعُدُّوْ هَا شَيْئًا. وَمَنْ
اَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ اَدْرَكَ الصَّلاَةَ. ابو داود ١: ٢٣٦، رقم٨٩٣
Dari Abu
Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Apabila kalian datang
untuk shalat sedang kami dalam keadaan sujud, maka bersujudlah kalian. Dan
janganlah dihitung (satu rekaat). Dan barangsiapa mendapatkan satu ruku’,
berarti ia mendapatkan shalat itu". [HR. Abu
Dawud juz 1, hal. 236, no. 893, dla’if karena dalam sanadnya ada perawi bernama
Yahya bin Sulaiman].
عَنْ اَبِى بَكْرَةَ اَنَّهُ انْتَهَى اِلىَ النَّبِىّ ص وَ هُوَ رَاكِعٌ،
فَرَكَعَ قَبْلَ اَنْ يَصِلَ اِلَى الصَّفّ، فَذَكَرَ ذِلكَ لِلنَّبِىّ ص، فَقَالَ:
زَادَكَ اللهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ. البخارى ١ :١٩٠
Dari Abu
Bakrah bahwasanya ia mendapati Nabi SAW sedang ruku’, maka ia ikut ruku’
sebelum sampai pada shaff. Lalu ia menyampaikan hal itu kepada Nabi SAW. Maka
beliau SAW bersabda, “Semoga Allah menambahkan kebaikan atas semangatmu, dan
jangan kamu ulangi”. [HR. Bukhari juz 1, hal.
190]
عَنِ اْ لحَسَنِ اَنَّ اَبَا بَكْرَةَ جَاءَوَ رَسُوْلُ اللهِ ص رَاكِعٌ فَرَكَعَ
دُوْنَ الصَّفّ شُمَّ مَشَى اِلىَ الصَّفّ. فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ ص صَلاَتَهُ
قَالَ: اَيُّكُمُ الَّذِيْ رَكَعَ دُوْنَ الصَّفّ شُمَّ مَشَى اِلىَ الصَّفّ؟، فَقَالَ
اَبُوْ بَكْرَةَ: اَنَا. فَقَالَ النَّبِيُّ ص: زَادَكَ اللهُ حِرْصًاوَلاَتَعُدْ. ابو داود
١: ١٨٢، رقم:٦٨٤
Dari Al-Hasan
bahwasanya Abu Bakrah datang (di masjid), ketika Rasulullah SAW sedang ruku’,
maka ia ikut ruku’ sebelum sampai di shaff, kemudian ia berjalan menuju shaff.
Maka setelah Nabi SAW selesai shalat, beliau bersabda, “Siapa diantara kalian
yang ruku’ sebelum sampai di shaff, kemudian berjalan ke shaff ?”. Maka Abu
Bakrah menjawab, “Saya”. Maka Nabi SAW bersabda, “Semoga Allah menambah
kebaikan kepadamu atas semangatmu, dan jangan kamu ulangi”.
[HR. Abu Dawud juz 1, hal. 182, no. 684]
عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّهُ كَانَ
يَقُوْلُ: مَنْ اَدْرَكَ اْلاِمَامَ رَاكِعًا، فَرَكَعَ
قَبْلَ اَنْ يَرْفَعَ اْلاِمَامُ رَأْسَهُ فَقَدْ اَدْرَكَ تِلْكَ الرَّكْعَةَ. البيهقى
٢ : ٩٠
Dari Ibnu ‘Umar, ia
mengatakan, “Barangsiapa mendapati imam sedang ruku’, lalu ikut ruku’ sebelum
imam mengangkat kepalanya, maka ia telah mendapatkan rekaat itu”. [HR. Baihaqi juz 2, hal. 90]
عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ قَالَ : خَرَ جْتُ مَعَ عَبْدِ اللهِ
يَعْنِى ابْنَ مَسْعُوْدٍ مِنْ دَارِهِ اِلَى الْمَسْجِدِ، فَلَمَّ تَوَ سَّطْنَا
الْمَسْجِدَ رَكَعَ الاِمَامُ، فَكَبَّرَ عَبْدُ اللهِ وَ رَكَعَ وَرَكَعْتُ
مَعَهُ، شُمَ مَشَيْنَا رَاكِعَيْنِ حَتَّى انْتَهَيْنَا اِلَى الصَّفّ حِيْنَ
رَفَعَ الْقَوْمُ رُءُوْسَهُمْ، فَلَمَّا قَضَى الاِمَامُ الصَّلاَةَ قُمْتُ وَ
اَنَا اَرَى اَنّى لَمْ اَدْرِكْ، فَاَخَذَ عَبْدُ اللهِ بِيَدِى وَ اَجْلَسَنِى،
شُمَّ قَالَ: اِنَّكَ قَدْ اَدْرَكْتَ. البيهقى ٢: ٩٠
Dari Zaid
bin Wahab, ia berkata, “Aku keluar bersama ‘Abdullah, yakni Ibnu Mas’ud dari
rumahya menuju masjid. Ketika kami sudah sampai di bagian tengah masjid, imam
ruku’, maka ‘Abdullah bin Mas’ud bertakbir kemudian ruku’, dan akupun ikut
ruku’ bersamanya. Kemudian kami berjalan sambil ruku’ sehingga sampai ke dalam
shaff ketika orang-orang sudah mengangkat kepala mereka. Setelah imam
menyelesaikan shalat, aku bangkit, karena aku mengira belum mendapatkan satu
rekaat. Namun ‘Abdullah menarik tanganku dan mendudukkanku sambil berkata,
“Sesungguhnya engkau telah mendapatkan (rekaat itu)”. [HR. Baihaqi juz2, hal. 90]
عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ اَخْبَرَنِىى اَبُوْ اُمَامَةَ بْنُ سَهْلِ
بْنِ حُنَيْفٍ: اَنَّهُ رَأَى زَيْدَ بْنَ شَابِتٍ دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَ الْاِمَامُ
رَاكِعٌ فَمَشَى حَتَّى اَمْكَنَهُ اَنْ يَصِلَ الصَّفَّ وَ هُوَ رَاكِعٌ، كَبَّرَ
فَرَ كَعَ شُمَّ دَبَ وَ هُوَ رَاكِعٌ حَتَّى وَ صَلَ الصَّفَّ. البيهقى ٢: ٩٠
Dari Ibnu Syihab, ia berkata : Mengkhabarkan kepadaku Abu Umamah
bin Sahl bin Hunaif, bahwasanya ia melihat Zaid bin Tsabit masuk ke dalam
masjid pada saat imam sedang ruku’. Kemudian ia berjalan supaya memungkinkan
baginya untuk mencapai shaff dalam keadaan ruku’, maka ia bertakbir lalu ruku’.
Kemudian ia berjalan sambil ruku’ sehingga sampai di shaff. [HR. Baihaqi juz 2, hal. 90]
Keterangan :
Dengan
dasar hadits dan riwayat di atas mereka memahami perkataan“rak’atan”
diartikan ruku’, dan mereka memahami “walaa ta’ud” dengan jangan
mengulangi shalat, sehingga apabila ma’mum masbuq mendapatkan ruku’ bersama
imam, maka sudah dihitung mendapat satu rekaat.
Pendapat
kedua, ma’mum masbuq yang tidak mendapatkan
Al-Fatihah tidak dihitung satu rekaat, meskipun mendapatkan ruku’ bersama imam,
dengan alasan :
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ:
لَاصَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ. البخارى ١: ١٨٤
Dari
‘Ubadah bin Shaamit bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Tidak(sah) shalat bagi
orang yang tidak membaca Al-Fatihah”. [HR.
Bukhari juz1, hal. 184]
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ:
لَاصَلَاةَ لمِنْ لَمْ يَقْرَأْ بِاُمُّ الْقُرْاَنِ. مسلم ١: ٢٩٥
Dari ‘Ubadah bin
Shaamit bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Tidak(sah) shalat bagi orang yang
tidak membaca Ummul Qur’an (Al-Fatihah)”.
[HR. Muslim juz 1, hal. 295]
عَنْ اَبِىى هُرَيْرَةَ عَنِ
النَّبِيّ ص قَالَ: اِذَا سَمِعْتُمُ اْلاِقَامَةَ فَامْشُوْا اِلَى
الصَّلَاةِوَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِيْنَةِ وَ الْوَقَارِوَلاَتُسْرِ عُوْا،
فَمَااَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوْاوَمَافَاتَكُمْ فَاَتِمُّوْا. البخارى ١: ١٥٦
Dari Abu
Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Apabila kalian mendengar iqamah,
berjalanlah (menuju masjid) untuk shalat, dan hendaklah kalian datang dengan
tenang dan tunduk, dan janganlah tergesa-gesa. Apa yang kamu dapati shalatlah (bersama
imam), dan apa yang kamu ketinggalan sempurnakanlah”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 156]]
Keterangan
:
Berdasarkan
hadits-hadits di atas mereka memahami bahwa ma’mum masbuq yang mendapatkan
ruku’ bersama imam, belum dihitung satu rekaat, karena tidak mendapatkan
Al-Fatihah, sedangkan Al-Fatihah adalah salah satu rukun shalat, artinya :
kalau rukun tidak dikerjakan maka shalatnya tidak sah. Apabila ma’mum masbuq
mengalami yang demikian itu, maka ketika imam salam, ia tidak ikut salam,
tetapi menyempurnakan rekaat yang kurang tadi.
Penjelasan
:
1.
Dalam hal ini kami
sependapat dengan pendapat kedua, dengan alasan sebagaimana di atas.
2.
Adapun hadits ) مَنْ اَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ اَدْرَكَ
الصَّلَاةَ ) itu
memang benar, tetapi arti “ar-rak’ata” di situ adalah rekaat,
bukan ruku’. Maksud hadits tersebut begini : Barangsiapa yang shalat Dhuhur
mendapat satu rekaat, lalu terdengar adzan ‘Ashar, maka orang tersebut masih
terhitung shalat pada waktunya, begitu pula kalau seseorang shalat ‘Ashar
mendapat satu rekaat, lalu terdengar adzan Maghrib, berarti orang tersebut
terhitung shalat ‘Ashar masih dalam waktunya. Hal ini sesuai dengan hadits
berikut ini :
عَنْ اَبِىى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسَوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ اَدْرَكَ
رَكْعَةً مِنَ الصُّبْحِ قَبْلَ اَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَقَدْ اَدْرَكَ
الصُّبْحَ. وَ مَنْ اَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ اَنْ تَغْرُبَ
الشَّمْسُ فَقَدْ اَدْرَكَ الْعَصْرَ. مسلم ١: ٤٢٤
Dari
Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mendapatkan satu
rekaat dari shalat Shubuh sebelum matahari terbit, maka berarti dia telah
mendapatkan shalat Shubuh itu (keseluruhannya). Dan barangsiapa mendapatkan
satu rekaat dari shalat ‘Ashar sebelum matahari terbenam, maka berarti dia
telah mendapatkan shalat ‘Ashar itu (keseluruhannya)”. [HR.
Muslim juz 1, hal. 424]
3.
Memang rak’ah bisa berarti
ruku’ kalau ada qarinah yang membawa kepada arti tersebut, seperti hadits di
bawah ini :
عَنْ
اَبِىى هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا
قَامَ اِلَىى الصَّلَاةِ يُكَبّرُ حِيْنَ يَقُوْمُ، شُمَّ يَكُوْلُ: سَمِعَ
اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ حِيْنَ يَرْفَعُ صُلْبَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ، شُمَّ يَقُوْلُ
وَ هُوَ قَائِمٌ: رَبَّنَا لَكَ اْلحَمْدُ، شُمَّ يُكَبّرُ حِيْنَ يَهْوِ ي سَا
جِدًا. احمد
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Adalah Rasulullah SAW apabila
berdiri shalat, beliau bertakbir ketika berdiri, kemudian bertakbir ketika
ruku', kemudian membaca “Sami'alloohu liman hamidah” ketika mengangkat tulang
belakangnya (ketika bangkit) dari ruku', kemudian membaca Robbanaa lakal-hamdu”
dalam keadaan berdiri. Kemudian beliau “ bertakbir ketika menunduk sujud. [HR. Ahmad]
عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص جَهَرَ فِىى صَلَاةِ اْلخُسُوْفِ
بِقِرَاءَتِهِ فَصَلَّى اَرْبَعَ رَ كَعَا تٍ فِىى رَ كْعَتَيْنِ وَ اَرْبَعَ
سَجَدَاتٍ. مسلم ٢: ٦٢٠
Dari ‘Aisyah bahwasanya Nabi SAW membaca jahr dalam shalat gerhana
dan beliau shalat dengan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua
raka'at. [HR. Muslim 2 : 620]
Tetapi selama tidak ada qarinah atau sebab-sebab yang memalingkan
kata rak’ah kepada arti ruku’, maka rak’ah artinya adalah rekaat.
4.
Adapun memahami sabda Nabi SAW kepada Abu Bakrah (
وَلَا تَعُدْ )
itu dengan “dan jangan kamu
ulangi shalatmu, karena shalat itu sudah sempurnya”. Pemahaman tersebut tidak
benar, karena maksud Nabi SAW itu adalah, “lain kali jangan kamu ulangi
perbuatan seperti itu”, yaitu takbir (sebelum sampai di shaff), lalu ikut ruku’
di luar shaff, kemudian berjalan menuju shaff dalam keadaan ruku’.
5. Ada lagi
yang mengambil dasar “mendapatkan ruku’ bersama imam ini dihitung satu rekaat”,
dengan berdasar hadits riwayat Abu Dawud, yang disebutkan dalam buku Fiqh Islam
oleh H. Sulaiman Rasyid halaman
114, bab Hukum Masbuq :
اِذَا جَاءَاَحَدُكُمُ
الصَّلَاةَ وَ نَحْنُ سُجُوْدٌ فَاسْجُدُوْا وَ لاَ تَعُدُّ هَا شَيْئًا وَ مَنْ
اَدْرَكَ الرُّ كُوْ عَ فَقَدْ اَدْرَكَ الرَّكْعَةَ.ابوداود
Apabila seseorang diantara kamu
datang untuk shalat sewaktu kami sujud, hendaklah kamu sujud, dan janganlah
kamu hitung itu satu rekaat; dan barangsiapa mendapati ruku’ beserta imam, maka
ia telah mendapat satu rekaat. [HR. Abu Dawud]
Mengambil dasar dengan hadits
tersebut tidak benar, karena lafadh tersebut dalam kitab Sunan Abu Dawud tidak
ada. (Sudah kami cari dalam Sunan Abu Dawud, tidak kami temukan).
6. Adapun
perbuatan shahabat Zaid bin Tsabit, Ibnu Mas’ud dan lainnya, melakukan ruku’ di
luar shaff, lalu sambil ruku’ berjalan menuju shaff, itu tidak bisa dijadikan
dasar untuk diikuti, karena seandainya riwayat itu betul, maka pemahamannya
adalah sebagai berikut :
Beliau-beliau itu melakukan ruku’ di luar shaff lalu
sambil ruku’ berjalan menuju shaff itu tentu tidak sepengetahuan Nabi SAW
(memang dalam riwayat itu tidak ada qarinah yang menunjukkan bahwa hal itu
dilakukan dengan sepengetahuan Nabi SAW), dan ternyata ketika Abu Bakrah
melakukan demikian dan diketahui oleh Rasulullah SAW, maka beliau melarangnya.
Pemahaman ini dikuatkan dengan riwayat sebagai berikut :
عَنِ
اْلاَعْرَجِ قَالَ: قُلْتُ لِاَبِىى هُرَيْةا: يَرْكَعُ اْلاِ مَامُ وَ لَمْ
اَصِلْ اِلَىى الصَّفّ اَفَاَرْكَعُ؟ فَاَخَذَ بِرِجْلِى، وَقَالَ: لاَ يَا
اَعْرَجُ حَتَّى تَأْخُذَ مَقَامَكَ مِنَ الصَّفّ. ابن عبد البر ف الاستذ كار ٦:
٢٤٦، رقم: ٨٨٣٤
Dari Al-A’raj, ia berkata : Aku bertanya kepada Abu Hurairah,
“Apabila imam sedang ruku’ sedangkan aku belum sampai pada shaff, apakah aku
boleh ruku’ (ketika itu) ?”. Maka Abu Hurairah memegang kakiku, lalu berkata,
“Tidak wahai A’raj, sehingga kamu sampai pada tempatmu di shaff”. [HR. Ibnu ‘Abdil Barr dalam Al-Istidzkar juz 6, hal. 246, no 8834]
عَنْ اَبِىى هُرَيْرَةَ
قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا جَا ءَ اَحَدَ كُمُ الصَّلَاةَ فَلَا يَرْ
كَعْ دُوْنَ الصَّفّ حَتَّى يَأْ خُذَ مَكَانَهُ مِنَ الصَّفّ. ابن عبد البر فى
الاستذ كار ٦: ٢٤٦،رقم:٨٨٣٦
Dari Abu Hurairah, ia
berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seseorang diantara kalian datang
untuk shalat, maka janganlah ruku’ di luar shaff sehingga ia berada pada
tempatnya di shaff”. [HR. Ibnu ‘Abdil Barr
dalam Al-Istidzkar juz 6, hal. 246, no. 8836]
Kita dilarang membaca surat atau ayat saat imam membaca
jaher sesuai dengan surat Al A'raaf ayat
204
dan
apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah
dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.( Al A'raaf ayat 204)
~oO[ @ ]Oo~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar