Bid’ah adalah suatu cara beragama yang dibuat-buat,”
yang tidak mempunyai dasar dan landasan, baik dari Al-Qur’an, sunnah
Nabi Saw, ijma’, qiyas, maupun mslahat mursalahm dan tidak juga dari
salah satu dalil yang dipakai oeh para fuqaha.
Sabda Rasulullah saw. “ Sesungguhnya ucapan yang
paling benar adalah Kitabullah dan sebaik-baik jalan hidup ialah jalan
hidup Muhammad, sedangkan seburuk-buruk urusan agama ialah yang
diadadakan. Tiap-tipa yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah
adalah sesat, dan tiap kesesatan (menjurus) ke neraka.” (HR Muslim)
Dalam kesempatan lain
Rasulullah menjelaskan, “Siapa yang menciptakan hal baru dalam urusan
(ajaran agama) kita, yang bukan bagian darinya, maka perbuatan itu
tertolak.” (HR Bukhari Muslim)
Mengapa Islam bersikap
keras dalam masalah bid’ah, menilainya sebagai kesasatan, dan
pelakukanya diancam akan dimasukkan ke neraka, serta Nabi saw memberikan
peringatan yang amat keras dalam masalah ini?
Pembuat dan Pelaku Bid’ah Mengangkat Dirinya Sebagai Pembuat Syariat Baru dan Sekutu bagi Allah Swt
Islam memberikan
peringatan keras terhadap masalah bid’ah ini karena si pembuat bid’ah
bertindak seakan-akan ingin mengkoreksi Rabbnya dan memberikan kesan
kepada kita atau kepada dirinya bahwa dia mengetahui apa yang tidak
diketahui oleh Allah Swt. Seakan-akan dia berkata, “Tuhanku, apa yang
Engkau telah syariahkan kepada kami itu tidak cukup. Oeh karena itu,
kami menambah praktek ibadah baru atas apa yang telah engkau syari’atkan
itu. “Dengan demikian, ia telah menetapkan dirinya hak untuk
menciptakan syariat baru. Padahal, hak membuat syariat adalah milik
Allah Swt semata. Oleh karena itu Allah berfirman,
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?…(Qs Asy Syuura: 21)
Tindakan membuat
syariat baru tidak diizinkan oleh Allah Swt adalah tindakan yang amat
berbahaya. Karena, dalam kasus seperti itu, si pelakunya berarti telah
mengangkat dirinya sebagai sekutu bagi Allah Swt dan memberikan hak
kepada dirinya untuk menciptakan syariat baru dan berkreasi dalam agama,
serta membuat tambahan dalam agama Allah Swt. Hal ini dapat menimbulkan
bahaya yang amat besar dan dapat menjerumuskan seorang menjadi musyrik
kepada Allah Swt. Tindakan seperti inilah yang telah merusak agama-agama
langit sebelum Islam.
Apa yang telah terjadi pada agama-agama langit sebelum Islam?
Yaitu, terjadi bid’ah secara besar-besaran dan para pemeluk agama itu
meberikan kepada mereka hak untuk menambahkan hal-hal baru dalam agama
yang mereka, yang secara khusus dipegang oleh para pendeta dan
orang-orang alim mereka hingga agama yang mereka anut bentuknya berubah
sama sekali dari agama aslinya. Inilah yang dikecam oleh Islam dan
diabadikan oleh Al-Quir’an dalam firman Allah Swt,
“Mereka menjadikan
orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah
dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka
hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka
persekutukan.” ( Qs At Taubah: 31)
Pembuat Bid’ah Memandang Agama Tidak Lengkap dan Bertujuan Melengkapinya
Dari segi lain, orang
yang mengrjakan bid’ah seakan-akan menganggap agama tidak lengkap,
kemudian ia ingin menyempurnakan kekurangan dan ketidak sempurnaanya.
Padahal, Allah Swt telah menyempurnakan agama secara lengkap, sebagai
bentuk kesempurnaan nikmat yang diberikan-Nya kepada kita. Dia
berfirman.
“…Pada hari ini
telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (Qs Al Maa’idah : 3)
Oleh karena itu, Ibnu
Majisyun meriwayatkan dari Imam Malik bahwa dia berkata, “Siapa yang
telah membuat praktek bid’ah dalam agama Islam dan ia melihatnya sebagai
suatu tindakan yang baik, berarti ia telah menuduh Nabi Muhammad Saw
telah menghianati risalah Karena Allh Swt berfirman, Pada hari ini telah
Kusempurnakan untuk kamu agamamu.’ Jika saat itu agama Islam belum
lengkap niscaya saat ini tidak ada agama Islam itu.”
Membuat bid’ah dalam
agama Islam secara tidak langsung berarti telah menuduh Nabi Saw
berkhianat dan tidak menyampaikan risalah agama secara lengkap. Allah
Swt berfirman,
“Hai Rasul,
sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak
kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak
menyampaikan amanat-Nya…” (Qs Al Maa’idah: 67)
Agama Islam telah
sempurna dan tidak membutuhkan tambahan lagi. Karena, sesuatu yang sudah
sempurna tidak menerima adanya penambahan sama sekali. Hanya suatu yang
tidak sempurnalah yang dapat menerima penambahan dan penyempurnaan
baginya.
Oleh karena itu, para
sahabat dan para imam setelah mereka, amat memerangi praktek bid’ah
karena hal itu berarti menuduh agama Islam tidak lengkap, dan menuduh
Rasulullah Saw telah berbuat khianat.
Bid’ah dalam Agama Membuat Manusia Tidak Kreatif dalam Urusan Keduniaan
Dari segi lain, jika
manusia mencurahkan energi dan perhatiannya untuk untuk melakukan
perbuatan-perbuatan bid’ah yang ditambahkan ke dalam agama, niscaya
mereka tidak lagi mempunyai energi untuk berusaha di dunia dan berkreasi
dalam urusan-urusan duniawi.
Bid’ah seperti yang
telah disinyalir sbelumnya, adalah “jalan-jalan beragama yang
dibuat-buat”. Pada dasarnya, manusia harus mengembangkan kerativitasnya
dalam bidang keduniawian, namun karena manusia telah mencurahkan seluruh
kreatifitasnya dalam urusan-urusan agama maka ia tidak lagi dapat
berkreasi dalam urusan-urusan duniwi.
Oleh karena itu,
generasi Islam yang pertama banyak menelurkan kreatifitas dalam
bidang-bidang duniawi dan mempelopori banyak hal yang pernah dilakukan
sebelumnya. Sehingga, mereka dapat membangun peradaban yang besar dan
tangguh yang menyatukan antara ilmu pengetahuan dan keimanan, antara
agama dan dunia. Ilmu-ilmu Islam yang dihasilkan pada masa itu. Seperti
ilmu alam, matematika, kedokteran, astronomi, dan sebagainya menjadi
ilmu-ilmu yang dipelajari di seluruh dunia dan masyarakat dunia belajar
tentang ilmu-ilmu itu dari kaum muslimin.
Mayoritas motif yang melatar belakangi kaum muslimin generasi pertama untuk menggeluti dan mengembangkan ilmu-ilmu tadi adalah motif agama.
Apakah anda mengetahui mengapa al-Khawarizmi menciptakan ilmu aljabar?
Ia menelurkan ilmu itu untuk menyelesaikan masalah-masalah tertentu
dalam bidang wasiat dan warisan. Tentang warisan, juga wasiat, sebagian
darinya memerlukan hitung-hitungan matematika. Oleh karena itu,
Al-Khawarizmi menulis bukunya yang berbicara tentang ilmu aljabar dalam
dua juz; juz pertama tentang wasiat da warisan, juz kedua tentang
aljabar secara umum.
Pada masa generasi pertama Islam, ilmu pengetahuan berkaitan erat dengan agama tidak ada dikotomi diantara keduanya. Bahkan
dikotomi antara ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum itu
sendiri adalah bid’ah yang sebelumnya sama sekali tidak ada dalam wacana
keilmuwan Islam. Karena, Islam tidak bersifat terpisah dari dunia.
Yang ingin kita
tekankan adalah, kaum muslimin pada masa keemasan Islam, dalam bidang
agama, mereka semata berpegang pada nash dan Sunnah, sedangkan dalam
bidang-bidang kehidupan, mereka berkreasi, menciptakan hal-hal baru, dan
mengembangkan ilmu pengetahuan dan penemuan yang telah ada. Sementara
pada masa kemunduran Islam, yang telah terjadi adalah sebaliknya. Orang
banyak sekali menciptakan hal-hal baru dalam bidang agama, sementara
beku dan statis dalam bidang-bidang keduniawian.
Dengan demikian,
pengingkaran perbuatan bid’ah dalam bidang agama bermakna menyiapkan
energi manusia untuk berkreasi dan mengembangkan urusan-urusan
keduniaan.
Bid’ah dalam Agama Memecah Belah dan Menghancurkan Persatuan Umat
Berpegangteguh pada
Sunnah akan menyatukan umat sehingga mmebuat mereka menjadi satu barisan
kokoh di bawah bimbingan kebenaran yang telah diajarkan Rasulullah Saw.
Karena. Sunnah hanya satu, sedangkan bid’ah tidak terbilang banyaknya.
Kebenaran hanya satu, sedangkan kabatilan beragam warna dan bentuknya.
Jalan Allah Swt hnaya satu, sedangkan jalan-jalan setan amat banyak.
Dalam hadits riwayat Ibnu Mas’ud ra, ia berkata “Suatu hari Rasulullah
Saw membuat garis lurus di hadapan kami, kemudian beliau bersabda, ‘Ini
adalah jalan Allah.’ Setelah itu beliau menggaris beberapa garis di
samping kiri dan kanan garis yang pertama tadi, dan bersabda,
‘Jalan-jalan ini (selain jalan Allah), masing-masing didukung oleh setan
yang menggoda manusia untuk mengikuti jalan itu. ‘Selanjutnya, beliau
membaca ayat,
“ Dan, bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia…” (Qs al-An’aam : 153)
Oleh karena itu, saat
umat secara konsekuen mengikuti Sunnah maka saat itu mereka bersatu
padu. Sementara, saat timbul beragam sekte dan mazhab maka umat tepecah
belah menjadi lebih dari tujuh puluh golongan. Bahkan masing-masing
golongan itu pada gilirannya kembali tepecah-pecah menjadi
kelompok-kelompok kecil. Dan, masing-masing golongan dan kelompok itu
meyakini bahwa mereka sajalah penganut agama Islam yang sebenarnya.
Selanjutnya, masing-masing golongan itu menciptakan bid’ah yang
sedemikian banyak. Sebagian bid’ah itu dalam bidang akidah kadang-kadang
ada yang sampai pada kekafiran. Ada kelompok yang menganut
antropomorfisme yang menyerupakan wujud Allah dengan makhluk-Nya, mereka
tekenal sebagai kelompok Musyabbihah dan Mujassimah. Diantara
mereka ada yang mengingkari kodrat Allah Swt, meskipun mereka tidak
mengingkari ilmu-Nya. Diantara mereka ada yang mengakafirkan kaum
muslimin dan menghalalkan darah mereka, seperti kalangan Khawarij, meskipun ketekunan ibadah mereka amat mengagumkan.
Setelah itu, timbul kalangan tasawuf yang sebagaian mereka mengungkap hal-hal yang sama sekali tidak dilandasi syariat, seperti berpedoman hanya kepada ‘rasa’ dan intuisi,
bukan kepad syariat. Menurut mereka, orang tidak perlu berpegang pada
apa yang difirmankan Rabbnya, namun yang terpenting adalah pedoman pada
apa yang dikatakan hatinya. Salah seorang dari mereka dengan bangga
berkata, “Hatiku berkata kepadaku berdasarkan informasi dari Tuhanku.’
Karena ia mengambil informasi langsung dari “atas”.
Dari mereka ada yang
berkata, “Kalian mengambil ilmu kalian dari orang yang telah mati yang
mendapatkannya dari orang yang telah mati pula, sementara kami mengambil
ilmu kami dari Zat Yang Maha Hidup, Yang tidak mati!”
Diantara istilah yang dikembangkan oleh mereka adalah hakikat dan syariat.
Mereka berkata “Orang yang melihat manusia dengan mata syariat, niscaya
akan membenci mereka, sedangkan orang yang meihat manusia dengan mata
hakikat, niscaya akan memberi uzur (sikap memaklumi) kepada mereka.
Orang yang berbuat perbuatan zalim/dosa seperti zina, mabuk-mabukan,
pencurian, pembunuhan atau yang lainnya; mereka itu, jika anda lihat
mereka dengan mata syariat niscaya anad akan membnci mereka karena
syariat melarang semua itu. Namun jika anda melihat dengan mata hakikat,
niscaya anda akan memberikan uzur kepada mereka. Karena meskipun mereka tidak menjalankan perintah Allah Swt, namun pada hakikatnya mereka menjalankan iradah
‘kehendak’ Allah karena Allah lah yang menghendaki segala sesuatu.
Allah menggerakkan manusia sesuai dengan kehendak-Nya, lantas apakah
anda ingin turut campur dalam kekuasaan Allah Swt? Biarkanlah kekuasaan
berjalan ditangan raja, sementara manusia lain, biarkanlah mereka hidup
sesuai dengan kehendak Sang Khalik.
Terdengar begitu
indah…, namun dengan keyakinan seperti itu, tumbuh suburlah sikap pasif
dalam menghadapi kerusakan dan penindasan, dengan demikian juga dengan
pendidikan. Hingga dalam bidang yang terakhir ini, tasawuf mencabut
kepribadian manusia, yaitu seperti postulat tasawuf “sikap sorang murid
di hadapan syeikhnya adalah seperti mayat ditangan orang yang
memandikannya”, “siapa yang bertanya kepada syeikhnya: mengapa? Maka,
sang murid itu tidak akan ‘sampai’ kepada tujuanya”, dan seterusnya.
Berapa banyak sekte-sekte tasawuf (tarekat) seperti ini telah timbul dikolong langit? Na’uzubillahi mindzalik!
Jika umat Islam kita
biarkan mengikuti dan menjalankan praktek bid’ah, niscaya mereka tidak
akan bersatu dalam satu shaf. Umat Islam hanya dapat bersatu jika mereka
berdiri di belakang Rasulullah Saw dan mengkuti kitab Allah yang benar
dan Sunnah Rasul-Nya.
Dr. Yusuf Qarhawi (As Sunnah wal Bid’ah)
(Sumber : http://www.gemainsani.co.id)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar